TERCIPTA LUKA
Oleh Ilham Setiawan
Sementara kita saling berbisik
Untuk lebih lama tinggal
Pada debu, cinta yang tinggal berupa
Bunga kertas dan lintasan angka-angka
Ketika kita saling berbisik
Di luar semakin sengit malam hari
Memadamkan bekas-bekas langkah kaki, menyekap sisa-sisa unggun api
Sebelum fajar
ada yang masih bersikeras abadi.
Selamat malam purnama berkabut
Seulas kata tersenyum menyapamu
Membingkai detik waktu yang saling bersahutan
Siapa yang masih sibuk berdetak di bilik waktu?
Siapa aku?
Barisan syair tak terhitung
Atau...
Sakit peluh tercacat sedikit kebahagiaan
Cinta, berapa lama kau berkelana?
Berapa purnama sudah kau lewatkan tanpaku?
Berapa kaledoskop Do'aku menghujam langit
Tapi kau diam tetap bercahaya serinai bias bintang di angkasa
Kau bagai lukisan tuhan di langit senja
Tak cacat oleh seutas kabutpun
Tetapi hujan masih rintik berbaris di langit malam
Mengambang di bumi
Bergelanyut mencium unjung daun cemara
Lagi...
Mimpiku tak tercipta malam ini
Tak jua malam-malam menyayat berikutnya atau lalu pula
Dan semoga Takdir Tuhan mengiringi insan ini
Tuhan yang lebih dekat dari sukmaku sendiri
Selamat tinggal cinta....