ANCAMAN TUHAN
Oleh Ilham Setiawan
Kilatan cahaya menukik telak
Mengakar-akar membentuk kilatan menakutkan
Kota mati terang seper sekian detik
Kaca gedung mengkilat terpantul seribu akar petir
Lalu gelap
pekat membayang di langit malam
Di tingkahi hujan lebat
Di usap-usap angin jahanam
Oh..
malam mencekam
Anak-anak burung walet di atas lantai 17
Meringkuk
berebut temat di sarang
Mencari sedikit kehangatan
Menunggu induknya yang sejak senja tak kunjung pulang
Seperti kilat petir, guntur, hujan, angin yang berebut perannya malam ini
Bertubi-tubi tak menyisakan detik tanpa ancaman
Pohon-pohon hampir tumbang
Tiang-tiang listrik bersiaga satu di tempatnya
Kabar buruk menyapa
Wuss...
Suara sirine menelisik telinga
Bernyanyi tak kenal waktu
Tak ada suara serangga
Tikus-tikus got dan kucing kota tenggelam dala kalutnya malam
Air menggenang
Menyiprat ke wajah pucat penghuni halte
Mengulum puntung rokok yang padam setengah jam yang lalu
Kilat petir meneror hatinya
Gutur-guntur membunuh imajnasinya
Angin penggoda cakrawala bersemayam menusuk-nusuk nadi tuanya
Bergumam "berita apa Tuhan"
"Begitu payahkah kita membuat Engkau marah setiap waktu?"
Mnenengadah ke langit putih pucat
Terpejam bermain telepati dengan alam
Namun alam bisu
Meyimpan banyak misteri...
Bayi gadis menjerit
Menyaingi suara sirine pemadam
Jeritan histeris untuk usianya yang palsu
Setiap hati terselinap ketakutan
Membuncah kapanpun menembus dimensi ruang tua ini
Oh Tuhan maafkan kami
Lindungi kami.