🪷 Bijaksana

SYAIR PENGELANA

Oleh Natalino Neparasi

Angin menyusup sendi-sendi peraba Terpaannya mengulik rasa yang kian mendaging Denting piano, untaian nada besimbah tautan emosi Mengiring jalan pengelana Mata berpacu dengan waktu menikmati balutan endek pada liukan tubuh penari Menghipnotis separuh rasa Perlahan memborbardir jatung pertahananku Ingin kubunuh rasa dengan seteguk tuak, tapi aku tak terbiasa Ingin Kuulang duduk bersisian di samping warung Serombotan sebagai menu makan soreku Ketika matamu berpendar menghipnotis sukmaku Dan serombotan memalingkan rasa untuk kembali bersua Ingin kuintai setiap denyut nadimu Bersamaan dengan malam yang kian lalu-lalang Dalam seruan baris-baris doaku Kusebut namamu Rasaku memburu Kemana ku bermuara? Rasa ini kian melilit rongga dada Sesak nafas mendesah, ah….. hanya mimpi Kemana kubuang bayang yang tak mau menyusut? Ketika senja membayang di pantai Kusamba Anak nelayan menyerukan untaian lagu rindu Aku mulai mengigil memanggil namamu kuukir wajah yang kian mengrogoti pada pasir ini Namun balutan angin dan terpaan ombak menghapusnya Kuredam kembali asah Kita berbeda, aku tandus dan kering kamu seni dan budaya Mungkinkah kita bisa menyatu?

Puisi Lainnya

SAJAK HARAP Oleh Natalino Neparasi SAHABAT, BEBAS! Oleh Natalino Neparasi