SI BUTA DARI GUA HURUF, BERHIJRAH KE KOTA
Oleh El Masyriq
Semilir suasana kampung halaman
Berlatarkan kesejukan nan hijau, serta
Kesejukan nan bening,
Di sepanjang tapak jalan warga Sendukan hari hari seorang putri
Yang tak kunjung berhenti
Menanti di beri seragam
Oleh sang ayah
Bel sekolah berdering
Namun hatilah yang sesalkan
Ayah tak kunjung waras tabiatnya
Uang dari negri tetangga, Sebegitunya ayah tak sisihkan
Demi taman kanak kanak ku
Ibuku kiranya tak benar dan tak salah
Menyesali dan meminta surat gugat
Kepada kantor urusan agama
Lantaran rumah tangganya tak kokoh akibat tiang yang sempal
Tiang rumah yang menyangga,
Ialah yang harus tanggung
Bersemi dan bertani
Bertepi dan berdo'a
Agaknya anak ini belum bisa baca
Walaupun sudah duduk dibangku
Teman temannya yang sudah fasih berbahasa
Terlebih bapak yang kurang berperi kemanusiaan
Membiarkannya mengidam sindrom itu Derap langkahnya di ikuti oleh kesabaran sang guru
Sehingga sibuta dari gua huruf
Di izinkan masuk kelas dua
Walau ia baru bisa mengeja
Tak perduli dia diejek dan di remehkan
Tak perduli kadang pinggangnya harus merasakan sakitnya dicubit
Tak putus semangat
Keinginannya untuk memahami
Perlahan melukiskan sejarah sang buta
Ia merasa haus dan ketinggalan akan zaman
Ia merasa di ambang ban sebuah trailer besar Ia akan di kelindas
Atau ia takkan dapat kabur
Ia terus berlari
Santun bagai orang sunda
Tegar ia warisi dari ibunya
Ia melawan semua musuh
Dengan ilmu pertapa di gua huruf,
Sehingga trailer yang hendak melindas
Entah kemana jalannya ia sudah tak melihatnya
Ia bebas masuk keluar dari gedung satu ke gedung yang lain
Bukan terlalu cerdas
Bukan pula fasilitas Namun cukuplah dirinya sebagai modal
Modal yang dapat membendung arus inflasi