DUSTA
Oleh Bambang Sukmadji
Jangan kau terburu, melempar dustamenimang perguliran harilantas kau suguhkan, sayatan demi sayatanhingga tak lagi, aku sempat menilik jantung hatiyang seharusnya berada di kubangan air bunga
bila aku raih yang nampak dalam guratan tangankunamun kau hanya mencanda tiupan angindari sisi bukit yang menjulang anggunsementara hariku kau tepis ke tengah fatamorganadengan kemilau warna pelangiyang kusam..
lantas sepiakupun tak tahu
Dalam hitungan hari dan deru waktukau ayunkan langkah kakihingga ke puncak bukit pesonadengan gaun Sinderella..
kau senyum ramahmeluruhkan semua daun palmamenerbangkan sulaman kain kelambuyang aku bentangkan memenuhi semua liuk tubuhmu
Akupun memunguti langkah surutdi batas senja dengan seribu tangan malaikatyang menghipnotisku, dalam hari hari birumasih mampu aku ikat benang benang merah jinggasampai ke semua penjuru langithingga Sang Supraba aku teriakimeski parau suaraku, namun seribu derai tawapuncak bukit sepanjang negeri sorgamenelikungku
aku terhenyak
Wajah hari semakin aku kenal..
nyanyian kutilangtak memekakan telingakukerutan dahi yang memerah...
telah bertumbuhsesubur bunga di taman halaman gubugkubiar saja kau pincingkan kedua matamutak lagi menyelingkuhi hari hari dalam memburu(Semarang, 5 Pebruari 2012).