UNTUK PENULIS HUJAN
Oleh A M Mulyadi
Aku berdiri menangkar sunyi bumi, sendiri.
Bersemedi di balik pagi, mengulang bayang siang, menyekam dendam malam.
Agar bisa sesahaja senja.
Aku mencoba mengisi ruang kosong doa gerimis dengan sebait bacaan awan.
Menerbangi titik niskala, menyusupkan jiwa ke puncak tahta cakrawala.
Agar aku bisa menjadi langit, tempat semua keluh bumi menjerit.
Tapi pada akhirnya kamulah yang menjadi langit.
Dan kini aku coba tirakat dari gumpalan pekat.
Terus kuhapalkan bacaan awan, biar kamu tak membuat hujan.
Mungkin akan kusaput beningmu dengan bacaan awan
Meski sedikit menghitam, namun aku yakin, derasmu dari langit tak akan turun.
Karena langitmu masih berias warna tawas dan bacaan hujanmu tak pernah tuntas.
Untuk penulis hujan, pada jiwa yang kuberi janji udara;
Nafas-nafas dingin yang kuhembuskan
Tak akan kukumpulkan menjadi angin agar tak bisa membawa air kelangit;
Untuk kamu ciptakan menjadi hujan.
Karena aku tak ingin kamu menjatuhkan butiran bening,
Seperti huruf-huruf kecil yang kau muntahkan saat gerimis tiba.
Dan tak akan kubiarkan kamu membuat surga kata dari deraimu,
Sebab surga tak sebening buliran itu.