🪷 Bijaksana

SAJAK PEPERANGAN ABIMANYU

Oleh W.S. Rendra

(Untuk puteraku, Isaias Sadewa) Ketika maut mencegatnya di delapan penjuru. Sang ksatria berdiri dengan mata bercahaya. Hatinya damai, di dalam dadanya yang bedah dan berdarah, karena ia telah lunas menjalani kewjiban dan kewajarannya. Setelah ia wafat apakah petani-petani akan tetap menderita, dan para wanita kampung tetap membanjiri rumah pelacuran di kota ? Itulah pertanyaan untuk kita yang hidup. Tetapi bukan itu yang terlintas di kepalanya ketika ia tegak dengan tubuh yang penuh luka-luka. Saat itu ia mendengar nyanyian angin dan air yang turun dari gunung. Perjuangan adalah satu pelaksanaan cita dan rasa. Perjuangan adalah pelunasan kesimpulan penghayatan. Di saat badan berlumur darah, jiwa duduk di atas teratai. Ketika ibu-ibu meratap dan mengurap rambut mereka dengan debu, roh ksatria bersetubuh dengan cakrawala untuk menanam benih agar nanti terlahir para pembela rakyat tertindas - dari zaman ke zaman Jakarta, 2 Sptember 1977 Potret Pembangunan dalam Puisi

Puisi Lainnya

SAJAK BULAN MEI 1998 DI INDONESIA Oleh W.S. Rendra SAJAK SEONGGOK JAGUNG Oleh W.S. Rendra SAJAK JOKI TOBING UNTUK WIDURI Oleh W.S. Rendra DOA SEORANG SERDADU SEBELUM BERPERANG Oleh W.S. Rendra SAJAK GADIS DAN MAJIKAN Oleh W.S. Rendra