PUNCAK KERINDUAN
Oleh Imam Mukhlisin
Entah.
Ya, hanya 1kata itu yang saat ini berada di palung hati.
Lalu menggumpal menjadi satu tanda tanya besar.
Kau lukiskan cinta yang begitu mempesona pada selembar kertas putih.
Dan kau hembuskan nada harapan yang begitu agung.
Palung yang begitu dalam ini nampak sangat indah.
Bak eloknya rasi bintang di langit malam.
Tapi semua seperti bayangan air di tengah gurun ketika kau lipat - lipat kertas itu.
Kau lipat semakin kecil lalu engkau rupakan perahu kertas.
Keindahan itu hilang kala kau lempar perahu kertas itu ke tengah luasnya lautan.
Terombang - ambing tanpa tuntunan.
Pagi, siang, dan malam hanya sepi yang menjadi kawan setia.
Wahai sang inspirasi.
Ikhlaskah engkau yang telah enyahkan aku dari mata hatimu.
Tanpa semangat kuselalu merindu.
Wahai engkau yang namanya telah terpahat di hati.
Terlihat kah aku yang semakin hancur dan hancur termakan waktu.
Dalam kehancuran kuselalu mengenangmu.
Azizul mar'ah.
kurindu alunan cintamu sebelum kau tempatkan aku pada kesendirian.
Namun jika kau tak berkehendak,
Peluk lah aku yang telah hancur.
Kan kau lihat lukisan cintamu yang masih tertera.
Karena bagiku,
Engkau bagai bunga edelweis yang tumbuh di pegunungan.
Si bunga abadi yang selalu tumbuh mewangi meski tertiup badai.
Gresik, 24 Januari 2017 (21.18)