🪷 Bijaksana

PEREMPUAN ITU KUSEBUT BULAN

Oleh Dani Sukma AS/1/Perempuan itu kusebut bulan, matanya yang teduh serupa purnamamelingkar di kelopak malam, sebelum akhirnya mengatup dikeheningansembari menembang kidung-kidung mimpi di dalam tadarus panjangsaat tidur berjelaga di mataku yang sibuk merapal dzikir keagungan Tuhan Perempuan itu kusebut bulan, sebab dalam tatapnya ada semacam pijarmenyala dalam jiwaku yang terperangkap gelap, perlahan mengendaplalu menoktah di atas ranjang menyangga tubuhku yang terkapardalam merah-putihnya dzikir yang kurapal, aku pun menemu mimpikuyang tersangkut di jemari malaikat hingga tak sampai padaku; kecuali secuilnya saja/2/Ah, perempuan itulah yang kusebut bulan, sebab aku terpesona pada seringai bibirnyasaat mendesiskan jiwaku yang liar, apalagi saat senyumnya yang menjelma kunangatau lebih tepat kusebut bintang juga memijar dalam kelelakianku yang menggeleparserupa gila sasar, alahai... inikah rupanya gelegak nafsu yang terbakar? Ah, perempuan itulah yang kusebut bulan, sederhana dalam mencintahanya berbagi sedekap peluk hangat dan desis manja, lalu kunikmati pergumulan bayangindah, penuh gejolak, menggelegak, hingga seluruh hasrat terserakdalam risalah nafsu yang tak habis-habisnya disimak... Serambi KOMPAK, 2010Kusebut Engkau Bidadari

Puisi Lainnya

DAWAI TANPA NADA MALAIKAT TAK BERSAYAPKU DALAM KEADAAN INI CINTA DAN KEMATIAN KETIKA KITA DITEMPA