MENYIMAK BERITA DI TELEVISI
Oleh Syukur Budiardjo
Setelah salat subuh di hari libur yang teduhkusimak berita pagi di televisi.
Rata-rata isinya hanya keluh dan gaduhberujung derita sesama di negeri ini.
Ada berita gaib, naif, dan aib.
Ada berita kasar, samar, dan vulgar.
Juga ada berita gembira dan suka cita.
Tapi ada juga berita sedih, pedih, dan perih.
Berita korupsi senantiasa mengemukadengan pelaku muka baru dan lamalayaknya seperti lomba lari estafet sajatertangkap satu tumbuh tak terhingga.
Padahal koruptor bengal meminta tumbal.
Jalan berlubang membuat nyawa meregang.
Obat mahal hingga yang duafa tersengal-sengal.
Harga sembako menjulang si miskin jadi berhutang.
Ketika kulihat pelakunya tersenyum jumawa
sambil mengacungkan jempolnyaatau dengan bangga melambaikan tangannyaperutku terasa mual seketika itu juga.
Segera kumatikan televisikarena aku sudah tak sudi lagimelihat koruptor semakin tak tahu dirimenginjak-injak harkat dan martabat bangsa ini.
Jakarta, 13 Desember 2013