YANG DI TINDAS LENCANA
Oleh Mangsi
Mengeluh aku pada siang, namun ia acuh tak mendengar
Lalu aku pada malam, ia peluk bersimpah airmata
Pekat
aku pada lencana, yang selalu menginjak-injak harga diri kaum kecil
yang berdiri diatas sendal jepit yang lusuh dan hampir putusjenuh aku pada atribut yang selalu menganggap kami yang tak memiliki kursi sebagai wayang yang bisa mereka gerakkan seinginnya.
Kami
murka kami lelah kami marah tapi apadaya hanya kumandang hati yang tak
terdengar, nafas tak bisa melantunkannya, tangan takmampu menyentuh
kulit mereka yang berjiwa korsa yang hanya berani atas nama pangakat dan
jabatan.
Dorong saja kami ini kedalam jurang lalu bakar kami
hingga lenyap uap berubah abu agar kami bisa melayang keparu-parumu lalu
kami halangi setiap gram tarikan nafasmu
Tidak dendam hanya lelah, bukan marah hanya resah tapi malampun akan menjadi siangwaktu sedetikpun akan menjadi menithari akan berganti bulan lalu tahun lalu matijalani
kami takkan berpangku tangan seperti kalian yang mengumpulkan
pundi-pundi emas dari kami dengan bahasa berat serta dagu yang
tersorongkedepan menadah ke atas
Inilah kami, akan berhenti mengeluh dalam pasungan kemarahan didalam hati