🪷 Bijaksana

YANG DI TINDAS LENCANA

Oleh Mangsi

Mengeluh aku pada siang, namun ia acuh tak mendengar Lalu aku pada malam, ia peluk bersimpah airmata Pekat aku pada lencana, yang selalu menginjak-injak harga diri kaum kecil yang berdiri diatas sendal jepit yang lusuh dan hampir putusjenuh aku pada atribut yang selalu menganggap kami yang tak memiliki kursi sebagai wayang yang bisa mereka gerakkan seinginnya. Kami murka kami lelah kami marah tapi apadaya hanya kumandang hati yang tak terdengar, nafas tak bisa melantunkannya, tangan takmampu menyentuh kulit mereka yang berjiwa korsa yang hanya berani atas nama pangakat dan jabatan. Dorong saja kami ini kedalam jurang lalu bakar kami hingga lenyap uap berubah abu agar kami bisa melayang keparu-parumu lalu kami halangi setiap gram tarikan nafasmu Tidak dendam hanya lelah, bukan marah hanya resah tapi malampun akan menjadi siangwaktu sedetikpun akan menjadi menithari akan berganti bulan lalu tahun lalu matijalani kami takkan berpangku tangan seperti kalian yang mengumpulkan pundi-pundi emas dari kami dengan bahasa berat serta dagu yang tersorongkedepan menadah ke atas Inilah kami, akan berhenti mengeluh dalam pasungan kemarahan didalam hati