TUHAN, HATIKU PATAH
Oleh Annie Zulaikha
Sederet abjad namamu itu tlah kutuang
Dalam bejana nan dipenuhi bulir-bulir kristal Bening mengalun bak percik gemericik embun menawan
Bergulir namamu itu
Cendana masih nampak mewangi
Kesturi masih harum tak tersaingi
Begitulah aromamu bersemayam
Mengalun saja tanpa henti
Namun entah mengapa mayapada berganti suram
Seram mengganti langit biru
Senjaku terusik kala labuh tlah pergu
Kusam ....
Tiba saatnya gemuruh itu datang
Badai tak diundang menerjang terjang
Perahuku hilang melintang
Tak tahu haruskah kandas menendang tendang
Larik-larik sajak berhamburan
Sunyipun diam
Bicarapun senyap
Lenterapun kusam
Tuhan ....
Nama itu mendadak pudar
Tercabik-cabik aksara angkara mayapada
Nanar pada cahya yang mulai mengeluh
Hatipun mulai bergemuruhLusuh
Dan kemudian luruh
Tuhan ....
Hatiku patah
Sedemikian compang campingnya
Hatiky rumuk
Sedemikian tercabik-cabiknya
Tuhan ....
Lisannya tajam menjejali relung-relung ini
Menggulita pada pori-pori kemudian menghunjam tulang belulang
Sakit ....
Bagai sembilu ....
Memilu ....
Tuhan ....
Bila pelangi Kau ciptakan diantara rintik hujan
Biarkan rintiknya membasahi patahan-patahannya
Serpihan demi serpihan
Agar sejuk mendamaikan
Kala pilu mendawai-dawai
Tangerang, 23 November 2014