🪷 Bijaksana

TANPA JUDUL (2)

Oleh Komunitas Pecinta Sastra

Boleh saja kita menyemai Lalu merawat tanaman.. Tapi belajarlah pada ilalang Ia tetap tumbuh meski di tanah gersang Ku buka lagi Lalu ku tutup Dan kini.. aku ingin membukanya lagi Lembar-lembar kehidupan Yang tertuang dalam cerita maya Aku rindu pada kisahku sendiri.. Di sebalik dinginnya udara pagi.. Ku tembak seekor garuda Patah sayap kirinya, meliuk hampir jatuh Lalu hinggap di pohon akasia Satu peluru senapan angin sudah siap ku tembakkan Tapi nuraniku tersentuh.. Saat ku tatap matanya mulai layu Hanya Seekor Garuda Tua.. Sedang berpasang-pasang garuda muda Asik bercumbu di belantara, dengan ramuan rempah berbisa.. Sejak saat itu.. Pancasila kehilangan kesaktiannya.. 1 Oktober 2013.. Seruling kembali menjadi bambu hidup Meliuk di sisa-sisa belantara Desah dedaunan dan derit gesekan batang pohon Membuat birahiku mencuat kepermukaan Jika kau bukan seorang penjahat Lantas apa aku harus mengakuimu sebagai pahlawan?? Mmm... Maaf saja... Kata-kata perjuanganmu hanya sebatas simbol di pinggir jalan Mencari perhatian.. Berharap gambarmu ada yang nyoblos di tahun depan Pada siapa lagi ku mengadu.. Selain pada tulang belulangmu Di bawah tumpukan tanah yang tak lagi merah Tidakkah kau lihat mutiara berubah menjadi arang Di tangan para penerusmu Pahlawanku.. Tidak salah jika ku berharap Segeralah kalian bangkit dari kubur-kubur itu.. *Selamat Hari Pahlawan.. 10 November . . . . Bukan hanya penjajah yang membunuh para pahlawan.. Jadi jangan katakan Pahlawanku Idolaku,,, Sebelum kau buktikan diri bukan sebagai penghianat.. Banyak sekali karat di sini Debu-debu di sudut halaman.. Coretanku yang lama ku abaikan.. Ku mulai lagi.. Tapi Penaku entah di mana.. Aku lupa menaruhnya... Kuabaikan beberapa nama Meski dulu selalu menjelma di lukisan kertas Membentuk beberapa sketsa wajah Dan akhirnya terhapus kelam Aku ingin menghidupkannya kembali Tapi jiwaku kehilangan sebagian ruhnya Biarkan ia berjalan Menyusuri detak waktu Bukan ku tak perduli Berjuta kali telah ku bunuh Namun ia tetap mengikuti Mm.. Bayanganmu itu ...... Saat semua kegalauan melanda Kejenuhan menimpa Aku kembali ingat pada ceritaku Ku kayuh perahuku disana... Saat semua lagu dan puisi kembali menjadi sunyi Tidurlah... hanya itu yang bisa kukatakan Kuhujamkan pisau pada rinduku Lalu kurobek wajahmu dalam lembar kenangan Tapi mengapa kau tetap bercokol di sana.. Kubuka dan kututup lagi.. Mm.. hanya itu yang kulakukan kini Kerikil di jalanan dan Hantu di dahan pohon mangga itu Ah.... Malam Tambahkan lagi Setangkai Dua tangkai Tapi untuk apa?? Kertas warna warni yang biasa bertuliskan surat cinta Kini hilang tertimbun layar datar ditangan mu.. Hanya di kala malam aku bisa mengunjungimu Menawarkan secangkir kopi Dan kau mulai bercerita Tentang gembel renta yang tak kunjung kaya Tentang para priyai yang semakin buta Atau tentang pria berdasi dengan ribuan topeng lupa Tapi aku lebih suka cerita para koboy yang kehilangan pistolnya Tapi itu dulu... Sebelum malamku beku dalam sunyi Kau lagi Mm.. ku akui bayangmu terlalu indah untuk dilupa Meski segudang cinta yang ku beri Kau balas dengan secuil harapan Aku tidak pernah merasa kecewa Kini telah kumiliki sesuatu yang lebih darimu Mm... tapi kau tetap tersimpan rapi di sudut hati Satu, dua atau tiga tahun Sang pengelana akhirnya kembali Wajah lesu penuh luka kesedihan Rambut mulai terurai panjang kusut Ransel coklat tua masih setia di punggung Satu, dua atau tidak gunung Sang pengelana memutuskan untuk pulang Tapi apa yang akan ia temui Selain gundukan tanah merah berisikan tulang belulang.. Sang Adik yang terkubur di sana.. Tapi jangan khawatir Ki.. Sobatmu di sini ikut menunggumu Ya... Menunggu kecerian dan ceritamu.. **Catatan Harian Zohir "Teman yang terbuang" Terlalu lama tenggelam dalam lautan madu Mungkin kau akan merindukan rasanya pahit Tak mengapa... Luka yang mengering menjadi lukisan indah dan ku pajang di dinding jiwa Ku harap kau akan menyukainya Hijau Hutanku Biru lautku Jernih Sungai Ku Ah... Tapi itu dulu.. Jalanku Jalanmu Pernah bertemu di persimpangan tanpa lampu Kau menolehku.. Aku jatuh cinta padamu Lalu kita kembali melanjutkan perjalanan.. Jalanku Jalanmu Persimpangan itu tinggal masa lalu

Puisi Lainnya

TANPA JUDUL (3) Oleh Komunitas Pecinta Sastra