SURAT UNTUK PENGUASA SUARA BANGSA
Oleh Rahmat Radjendra
Aku mengetuk sanubari sepaling negeriatas wajah-wajah gelisah dipenuhi segala sanksi
Dalam janji-janji yang renyah di pasarpasar tumpahdalam gubug-gubug becek kaum-kaum upahdi ladang-ladang buruh serabutan
Di mana rahim-rahim tempat dititipkan
Sedang bunga-bunga bangsa bermekaranmasa ke masa keremangankesebalik bilik-bilik suara setiap lidap berpesta
Waktu membarak janji-janji berselimpangan
Seperti layang-layang putus dari benanganmengalun jauh sampai ke jurang-jurang
Kapal-kapal nelayanpabrik-pabrik makanan ringanlapak-lapak warung kopi dan asongan
Di mana rahim-rahim tempat dititipkan
Kemudian, harapan di dada yang sempat menahunmati suri
Kini sudah bangkit lagilewat serat-serat harap tak bersekatantara aku yang melulukan mati lampuketika janji-janji pemilu
Mengetuk sanubari sepaling negeri, atas wajah-wajah gelisah dipenuhi segala sanksi
Tentang pengabdian yang disanksikankarena sanksi; membencanai kepercayaan
Sebab keadilan-kemakmuran kepincangan
Tentang norma dan etika bernegarakehilangan makna
Pancasila; tinggal gema
Sebab kemiskinan kejujuran kedudukkan
Tentang penguasa yang lupa daratangelap gulita; perubahan
Sebab kecurangan kekuasaan kepanjangan
Tentang sumpah-sumpah yang muntahter-c-e-l-u-p-an; Rp
Sebab kepastian kejahatan ketuhanan
Kehilangan makna
Pancasila; tinggal gema
Kepada penguasa, manusia -Indonesia kitasaat ini butuh kerja nyata
Bukan sekedar wacana meja ke mejasekedaran bukan juga pidato-pidato di mimbar negara
Apalagi keselintasan surat kabar selembarantara aku yang melulukan mati lampuketika janji-janji pemilu
Membawa perubahan baru harapancitacita luhur bangsa nan mulia
Lewat seratserat harap tak bersekatantara aku yang melulukan mati lampuketika janji-janji pemilu
Demi negeri
Surat untuk penguasa suara bangsa
Jakarta, 17 Agustus 2014