🪷 Bijaksana

SURAT UNTUK PENGUASA SUARA BANGSA

Oleh Rahmat Radjendra

Aku mengetuk sanubari sepaling negeriatas wajah-wajah gelisah dipenuhi segala sanksi Dalam janji-janji yang renyah di pasarpasar tumpahdalam gubug-gubug becek kaum-kaum upahdi ladang-ladang buruh serabutan Di mana rahim-rahim tempat dititipkan Sedang bunga-bunga bangsa bermekaranmasa ke masa keremangankesebalik bilik-bilik suara setiap lidap berpesta Waktu membarak janji-janji berselimpangan Seperti layang-layang putus dari benanganmengalun jauh sampai ke jurang-jurang Kapal-kapal nelayanpabrik-pabrik makanan ringanlapak-lapak warung kopi dan asongan Di mana rahim-rahim tempat dititipkan Kemudian, harapan di dada yang sempat menahunmati suri Kini sudah bangkit lagilewat serat-serat harap tak bersekatantara aku yang melulukan mati lampuketika janji-janji pemilu Mengetuk sanubari sepaling negeri, atas wajah-wajah gelisah dipenuhi segala sanksi Tentang pengabdian yang disanksikankarena sanksi; membencanai kepercayaan Sebab keadilan-kemakmuran kepincangan Tentang norma dan etika bernegarakehilangan makna Pancasila; tinggal gema Sebab kemiskinan kejujuran kedudukkan Tentang penguasa yang lupa daratangelap gulita; perubahan Sebab kecurangan kekuasaan kepanjangan Tentang sumpah-sumpah yang muntahter-c-e-l-u-p-an; Rp Sebab kepastian kejahatan ketuhanan Kehilangan makna Pancasila; tinggal gema Kepada penguasa, manusia -Indonesia kitasaat ini butuh kerja nyata Bukan sekedar wacana meja ke mejasekedaran bukan juga pidato-pidato di mimbar negara Apalagi keselintasan surat kabar selembarantara aku yang melulukan mati lampuketika janji-janji pemilu Membawa perubahan baru harapancitacita luhur bangsa nan mulia Lewat seratserat harap tak bersekatantara aku yang melulukan mati lampuketika janji-janji pemilu Demi negeri Surat untuk penguasa suara bangsa Jakarta, 17 Agustus 2014