SURAT DALAM PRAHARA
Oleh Legiman Partowiryo
Aku mendengar suara yang meraung dari rongga dadamu
Menanyakan keadilan untuk sebuah pembelaan
Kepada mereka yang mengira lebih paham
Perihal cinta yang kehilangan segenap kesuciannya,
Kehilangan semua kemungkinan kebenarannya
Karena sebuah bodoh.
Mengerat cinta sedemikian rupa
Dan membaginya menjadi saling bertentangan
Dengan segala kerumitan pikiran dan aturan
Yang mereka cipta dari pikirannya yang suwung,
Dari pikirannya yang telanjang dan rusuh.
Kekasih, mereka bukanlah hakim
Yang merasa paling berhak mengadili kita,
Mengadili cawanku yang gersang yang kau toreh
Dengan agung percik-percik kasihmu,
Mereka hanyalah kerumunan domba
Yang butuh rumput untuk sekedar belajar hidup.
Biarlah suratku ini sampai
Dengan patah kedua lengan dan kakiku
Dengan putus nadi dan kering darahku
Dengan ledak pikiranku yang mencoba meraihmu,
Menjagamu dalam api abadi yang berkobar
Dengan bara doa-doamu.
Sebab, jalan yang kupilih adalah prahara.
Hingga kedua matakupun telah di butakan
Namun tetap saja mampu kulihat terang sinar cintamu
Yang menggumpal dan akan terlihat
Saat tubuhku menjadi abu.