🪷 Bijaksana

SURAT DALAM PRAHARA

Oleh Legiman Partowiryo

Aku mendengar suara yang meraung dari rongga dadamu Menanyakan keadilan untuk sebuah pembelaan Kepada mereka yang mengira lebih paham Perihal cinta yang kehilangan segenap kesuciannya, Kehilangan semua kemungkinan kebenarannya Karena sebuah bodoh. Mengerat cinta sedemikian rupa Dan membaginya menjadi saling bertentangan Dengan segala kerumitan pikiran dan aturan Yang mereka cipta dari pikirannya yang suwung, Dari pikirannya yang telanjang dan rusuh. Kekasih, mereka bukanlah hakim Yang merasa paling berhak mengadili kita, Mengadili cawanku yang gersang yang kau toreh Dengan agung percik-percik kasihmu, Mereka hanyalah kerumunan domba Yang butuh rumput untuk sekedar belajar hidup. Biarlah suratku ini sampai Dengan patah kedua lengan dan kakiku Dengan putus nadi dan kering darahku Dengan ledak pikiranku yang mencoba meraihmu, Menjagamu dalam api abadi yang berkobar Dengan bara doa-doamu. Sebab, jalan yang kupilih adalah prahara. Hingga kedua matakupun telah di butakan Namun tetap saja mampu kulihat terang sinar cintamu Yang menggumpal dan akan terlihat Saat tubuhku menjadi abu.