SIANG ITU DI LAMPU MERAH
Oleh Yeni Nababan
Kaki mungilmu sedari tadi menyusuri jalan
Memegang gitar kecil yang lusuh sama lusuhnya dengan pakaian yang melekat di tubuhmu
Menyanyikan kepiluan
Tanpa alas kaki, tampa penudung kepala
Dengan lincahnya kau menyalib diantara mobil berdesakan
Sambil memegang tangan tangan kecil adik perempuannya yang menadahkan kaleng berkarat
Dengan sabar membimbing langkahnya yang terseok
Terkadang adiknya harus bertengger di bahunya
Kala mata sayu si gadis keci kelelahan dan memandang gusarpenuh hasrat pada makanan yang terjaja di jalanan
Terasa miris... Ketika tanganmu menutupi pandangan adikmu yang mulai nakal...
Menangis menunjuk makanan makanan itu
Aku tahu pasti kelaparan melilit perut mungil mereka ditengah pengapnya kota ini
Adakah kau rasa sedihnya hidup ini???
Berat nian perjuanganmu tuk hidup
Demi sesuap nasi... Ntahlah
Syukur syukur keringatnya hari ini untuk mengisi perutnya dan adiknya
Kalau tidak:..... kasihan sekali
Dengan lancang ku kutuk orangtuanya
Yang tega membiarkan buah hatinya
Meniti hari buruk di masa kecilnya
Tiba tiba..
Aku rasa laparku menghilang entah kemana
Aku memberi jatah makan siangku tuk mereka yang tak seberapa
Mata si bocah menatap tajam penuh selidik Sedang si gadis kecil diam bungkam menatap sebungkus nasi itu penuh hasratmenyakitkan : Sebuah senyum kecil meyakinkannya
Aku berlalu Dari jauh kutangkap tawa mereka
Yah... itulah hidup selalu butuh perjuangan
Tuhan dengan bijaknya mengatur sebuah kehidupan untuk dipelajari
Sebuah nikmat yang lebih baik untuk disyukuri
Tapi tak memjadikanmu tinggi hati