🪷 Bijaksana

SIANG ITU DI LAMPU MERAH

Oleh Yeni Nababan

Kaki mungilmu sedari tadi menyusuri jalan Memegang gitar kecil yang lusuh sama lusuhnya dengan pakaian yang melekat di tubuhmu Menyanyikan kepiluan Tanpa alas kaki, tampa penudung kepala Dengan lincahnya kau menyalib diantara mobil berdesakan Sambil memegang tangan tangan kecil adik perempuannya yang menadahkan kaleng berkarat Dengan sabar membimbing langkahnya yang terseok Terkadang adiknya harus bertengger di bahunya Kala mata sayu si gadis keci kelelahan dan memandang gusarpenuh hasrat pada makanan yang terjaja di jalanan Terasa miris... Ketika tanganmu menutupi pandangan adikmu yang mulai nakal... Menangis menunjuk makanan makanan itu Aku tahu pasti kelaparan melilit perut mungil mereka ditengah pengapnya kota ini Adakah kau rasa sedihnya hidup ini??? Berat nian perjuanganmu tuk hidup Demi sesuap nasi... Ntahlah Syukur syukur keringatnya hari ini untuk mengisi perutnya dan adiknya Kalau tidak:..... kasihan sekali Dengan lancang ku kutuk orangtuanya Yang tega membiarkan buah hatinya Meniti hari buruk di masa kecilnya Tiba tiba.. Aku rasa laparku menghilang entah kemana Aku memberi jatah makan siangku tuk mereka yang tak seberapa Mata si bocah menatap tajam penuh selidik Sedang si gadis kecil diam bungkam menatap sebungkus nasi itu penuh hasratmenyakitkan : Sebuah senyum kecil meyakinkannya Aku berlalu Dari jauh kutangkap tawa mereka Yah... itulah hidup selalu butuh perjuangan Tuhan dengan bijaknya mengatur sebuah kehidupan untuk dipelajari Sebuah nikmat yang lebih baik untuk disyukuri Tapi tak memjadikanmu tinggi hati