🪷 Bijaksana

SEUNTAI RINDU UNTUK AYAH DAN HUTANNYA

Oleh Pintarsih

Seuntai Rindu Untuk Ayah dan hutannya Ku ingat dulu betapa sayang itu mengalir membawa masa kecilku menyusuri setiap jalan jalanmu tak henti ceritamu memenuhi anganku Gunung Merbabu, Telamaya, Sumbing Sindoro, Prahu, Dieng, setia menanti tapak-tapak kakimu akasia , pinus, mahoni, bintami, puspa tak lelah kau tanam di lerengnya Dalam cintamu kau semai cinta hutan itu dalam hatiku betapa harum hutan itu slalu kurindu seperti kurindu setiap elusan tanganmu kau ajari aku mengenal bedeng-bedeng yang setia sebagai rahim hutan kadang bukan cerita yang kau berikan tapi kau berikan teropongmu untuk aku mengerti bagaimana sakit hati ini ketika pohon itu tinggal tonggak Ketika hutan itu musnah terbakar api mata ini menangis setiap kulihat lereng yang telanjang Rinduku Mendengar setiap desir angin basah  yang menyusup Diantara pucuk pohon Rinduku Menatap setiap hijau daun, guguran daun yang melayang Gemerisik tebaran daun kering Rinduku Menyepi berteman batang-batang pohon Rinduku Menatap bening embun dipucuk rumput Rinduku Menenun suara dan langkahmu diantara benang-benang hutan Rinduku Menggores setiap daun dengan wajahmu Betapa penuh kerinduan ini kau tanam semua jauh dipetak-petak hatiku kini biarlah kau telusuri kembali gunung-gunung, lereng-lereng di hatiku tanam kembali seluruh benih itu dalam waktuku Biarlah semua terbingkai dalam hidupku karna jauh disana malaikat-malaikat menemanimu menyusuri gunung-gunung kekekalan