🪷 Bijaksana

SEPOTONG EPISODE PERJALANANKU

Oleh Rindang Susanto,S.

Pd.I1 Agustus adalah hari bersejarah bagi dirikuhari penuh kesedihan, rasa haru berbalut lukadi saat teman-temanku asyik membuka lembaran catatan perkuliahannamun aku justru sibuk dengan pekerjaan yang belum jua kudapatkandi saat teman-temanku asyik berbicara di atas penanamun aku menari di bawah tinta air mata Dalam hatiku berkata ?bulan ini aku tak kan melanjutkan kuliah sampai tahun depan Aku tak punya uang untuk membayar SPP Aku pantang meminta pada ke dua orang tuaku Aku kerap kali membuat mereka susah, payah, berlinang air mata Ibuku jatuh sakit bulan inisakit yang dideritanya bermacam-macammulai dari ringan sampai berat memilukanbahkan dokter mengatakan ibuku harus dioperasi Aku tak tega dengan keadaan ibukubagaimana mungkin aku meminta padanyasementara ia menahan air mata duka Ayahku hanya seorang wiraswasta belakadengan gaji tidak seberapabelum lagi ia harus menanggung sekolah adikkuyang sampai kini belum jua kunjung mendapat ijazah Dalam hatiku berkata ?biarlah aku membanting tulangbekerja dari pagi hingga petangwalau harus bersimbah darah, berpeluh keringat berlinang air mata Aku tak pedulibagaimana pun aku harus bangkitmencari mahisah demi sebuah cita-citabahuku terasa berat laksana memikul beban setinggi gunung Mataku mulai berkunang-kunangotot persendianku terasa lemas tiada berisikepalaku terasa pusing bagai tertimpa sebuah bongkahan batu Terbesit dalam hatiku ?betapa sulit mencari pekerjaan halal dan barokahdari satu tempat sudah kutapakisudut ke sudut telah ku jelajahinamun nasib baik belum berpihak pada diri Tidak, tidak ! Aku tidak boleh berputus asa dari rahmat Nyakarena ia Maha gagah, Maha penggenggam rizki hamba-hambaNya Ia tiada mungkin membiarkan hamba Nya merengek di depan pintu Nyamelainkan ia akan segera kabulkan itu semua Memang benar ternyata... hidup ini laksana mengarungi samudra duniayang luas membentang Aku meski kuat dan tegarsetegar karang di lautantetap bertahan walau dihantam ombak menghadang diterpa badai ganas menantang Aku tak boleh tertendang Aku harus maju menjadi seorang pemenang Detik demi detik berlalu, hari berganti hari Alhamdulillah, Allah ’Azza Wajalla mendengarkan doaku Aku diterima sebagai pegawai swasta di perpustakaannama sekolah itu adalah M Ts Guppisekolahnya sederhana namun tak lekang oleh suasana agama Kepala sekolah bijaksana Guru-guru berwibawa nan berakhlakul karimah Karyawan bersahajadan siswa-siswa yang ramah tamahsemakin membuatku betah di sana Di sekolah ini aku belajarbelajar menjadi penyabarwalau tak mudah Aku dididik untuk memasang wajah penuh ceriasenyum tulus terpatri serta sikap yang jauh dari iri dengkitatkala melayani siswa- siswi yang meminjam buku Di sini aku belajarbelajar tentang arti sebuah kedisiplinanbagaimana bisa bangun lebih awal, pagi-pagi tiba di sekolahdan pulang pun harus setia hingga siswa - siswi pulang dari sekolah Di sini aku belajar dari pengalamanpengalaman yang tiada mungkin luput dari benankkusenantiasa menari di bola mata-matakumembiaskan warna-warni kehidupan duniamerah, kuning, birusungguh pengalaman luar biasa Aku belajar darinyateman yang tiada pernah membohongikusenantiasa menemaniku di sela-sela rutinitas aktivitaskumenyentuhnya membuat halus jari jemariakrab dengannya memperindah budi pekertiialah kawan di saat aku kesepianialah guru di kala aku kebingunganialah kekasih di tengah aku kegundahanialah mutiara penyejuk jiwaku yang kering kerontang Jauh dari ketenangankarena dia aku memperloleh segudang pengetahuan Aku belajar darinya Guru-guru kehidupanyang telah membimbingku arti sebuah perjuanganmembangunkanku dari tidur panjangmeneguhkanku saat diri ini lemah tiada daya Jatuh, putus asa, malas, alpa, terlena, terpuruk berkepanjangan Ia menyibak hikmah dalam setiap episode perjalanan Buah Karya : Rindang Susanto,S. Pd.I Alumni IAIN Fakultas Tarbiyah Jurusan PAI Tahun 2006