🪷 Bijaksana

SANG PENGUBAH

Oleh Dimas Maulana

Mentari tenggelam di langit kota Kicauan burung saling bersahutan Air sungai mendesis dengan tenang Bintang dan bulan bemunculan Di ujung kota yang menyisakan tawa Nampak kejauhan disana Seseorang yang tak peduli sekitarnya Menjauh dari kerabat dan sahabat Tablet selalu merapat dalam genggaman Browser adalah temannya Sosial media tidak lain keluarganya Bersama berbagi situs hidupnya dijalani Tanpa peduli orang lain Simpatinya habis Pedulinya terkikis Pertumpahan darah biarlah terjadi Toh, untuk apa dia peduli? Hanya satu dalam otaknya tabletlah paling utama Keluarga? Itu nomor kedua baginya Untuk apa gunanya keluarga Ibadah? Tak usah terlalu dipikirkan Urusan mati biarlah nanti Hanya tinggal menanti sang waktu Persahabatan? Tak lagi ada artinya Suara itu pun datang Memerintah unduk dikerjakan Menghadap sang illahi Tapi, akankah ia sadar? Melepas earphone ditelinganya saja tidak Bahkan lagu yang dilantunkan itu dikeraskan Seakan ia terganggu mendengar suara itu Semuanya berubah!! Benda itulah penyebabnya Meskipun cepat atau lambat akan datang Dan akan menghujam harapan