SAJAK BURUNG PIPIT
Oleh Muhammad Fadhil Nurdiansyah
Terbang aku mengarungi langit majapahit
Di dingin yang teramat ku bentangkan sayapku
Melihat sesusur jalanan kota
Hilir mudik orang orang dengan sibuknya
Membawa sepeda mengangkut bahan dagangnya
Anak anak berseragam rapi tersenyum gembira
Para manula bercengkrama diwarung kopi bersama
Kutenggerkan cakarku di atap rumah warga
Mencari hawa sejuk pagi yang semilir tenang
Ku bentangkan sayapku yang tak sebentangan elang
Kekepakkan menyusuri majapahit selatan
Disana kumerasakan
Panas, terpaan debu bangunan
Ahh.. disana mengerikan
Bau tak sedap memasuki hidungku
Pamplet pamplet pemberontakan terpajang
Bentuk perlawanan pabrik menjulang
Disana kulihat
jalan berlubang seakan sudah saudara
Truk muatan batu menjadi teman jalanan
Bertenggerku di pohon beringin tua
Dan bertanya tanya?
Dimana pemerintahnya
Bagaimana nasib suara suara rakyat
yang bersamaku terbang menuju kantor kekuasaan
Majapahit..
Kata kakek nenekku majapahit itu
Permai, Sejuk, Penuh ketentraman
Orang orang hidup bersama kaum kami
Berkumpul bersama
Bercengkrama bersama
Makan tak makan
Tetap bersama
Tapi..
Aku tak bisa menemukannya dizaman ini
Selalu terbenak dihayalanku
Yang dibicarakan kakek nenekku
Kakek..
Apakah benar cerita yang kau sampaikan itu?
Nenek..
Mungkinkah benar ceritamu tentang kebersamaan itu?
Ah.. lupakan
Dibenakku, majapahit bukan seperti cerita lama
Majapahit adalah rumah pabrik berdiri
Bukan tempat keharmonisan terakit suci
Seperti yang kau ceritakan Kek, Nek
No Urut: 7152
Tanggal: 22/02/2017 7:01:18