🪷 Bijaksana

PEREMPUAN SENJA

Oleh Moh. Aliey Wafa

Adalah aku, perempuan senja dengan tudung lara beraroma nestapa Pemijat luka tentang lara dan melodi dusta tentang cinta Adalah aku, perempuan renta dengan penutup senja bertaluh suara pada kata-kata, jua perkara Aku tahu, kata-kata hanyalah buaian pengobat air mata Yang di sulap menjadi lorong penikmat warna Akupun mengerti, sesungguhnya cerita dan pelipur itu hanya sapaan hangat pagi tak berarti Bagaimana tidak, jika cinta yg ku tanam dan seharusnya aku petik tak sedikitpun tersentuh musim. Iya, aku masih merekam jelas tentang Februari kemarin Dimana aku memberanikan diri menyebut sepenggal dari seluruh kisah yang sempat tercabik-cabik Hingga akhirnya aku kembali menggigil melekuk tubuhku Pada waktu sembari meratap kepergianmu yg tiba-tiba itu Kau datang hanya menaruh rasa yg tak pasti, ketika aku mulai membuka mata dan berharap menghirup nafas dan bersandar pada dentuman fibrasimu Membuatku berhayal lantas hidup di tengah2 kerumunan orang asing Dan berharap kamulah yg akan menenangkan aku di dadamu Lagi berharap tentang masa depan cerah, hidup berkecukupan dengan sepotong cinta Yang sengaja kau taruh di saku bajumu yg katanya hanya kau peruntukkan untukku seorang Akh, persetan dengan cinta! Kata2 tak selamanya berarti setia Kaukah itu? Lelaki bermata empat berselendang kedustaan? Jika benar, perlihatkanlah lekuk alismu agar aku tak hanya hidup membayangkanmu saja Agar aku benar2 memastikan engkaukah itu Yang sempat berkelana mencari setumpuk cerita, Mengusik ketenangan dengan puisimu yg sudah berkarat Haruskah aku berguling2 menangisi kepergianmu dan menyesali sebab pertemuan denganmu? Maaf, aku memang perempuan namun tak serendah itu Menangisi apalagi meratapi dengan harga mati Aku perempuan senja yg sempat menemanimu berlarian dalam doa-doa