PEREMPUAN SENJA
Oleh Moh. Aliey Wafa
Adalah aku, perempuan senja dengan tudung lara beraroma nestapa
Pemijat luka tentang lara dan melodi dusta tentang cinta
Adalah aku, perempuan renta dengan penutup senja bertaluh suara pada kata-kata, jua perkara
Aku tahu, kata-kata hanyalah buaian pengobat air mata
Yang di sulap menjadi lorong penikmat warna
Akupun mengerti, sesungguhnya cerita dan pelipur itu hanya sapaan hangat pagi tak berarti
Bagaimana tidak, jika cinta yg ku tanam dan seharusnya aku petik tak sedikitpun tersentuh musim.
Iya, aku masih merekam jelas tentang Februari kemarin
Dimana aku memberanikan diri menyebut sepenggal dari seluruh kisah yang sempat tercabik-cabik
Hingga akhirnya aku kembali menggigil melekuk tubuhku
Pada waktu sembari meratap kepergianmu yg tiba-tiba itu
Kau datang hanya menaruh rasa yg tak pasti, ketika aku mulai membuka mata dan berharap menghirup nafas dan bersandar pada dentuman fibrasimu
Membuatku berhayal lantas hidup di tengah2 kerumunan orang asing
Dan berharap kamulah yg akan menenangkan aku di dadamu
Lagi berharap tentang masa depan cerah, hidup berkecukupan dengan sepotong cinta
Yang sengaja kau taruh di saku bajumu yg katanya hanya kau peruntukkan untukku seorang
Akh, persetan dengan cinta!
Kata2 tak selamanya berarti setia
Kaukah itu? Lelaki bermata empat berselendang kedustaan?
Jika benar, perlihatkanlah lekuk alismu agar aku tak hanya hidup membayangkanmu saja
Agar aku benar2 memastikan engkaukah itu
Yang sempat berkelana mencari setumpuk cerita,
Mengusik ketenangan dengan puisimu yg sudah berkarat
Haruskah aku berguling2 menangisi kepergianmu dan menyesali sebab pertemuan denganmu?
Maaf, aku memang perempuan namun tak serendah itu
Menangisi apalagi meratapi dengan harga mati
Aku perempuan senja yg sempat menemanimu berlarian dalam doa-doa