🪷 Bijaksana

PARIKESIT BANGKIT

Oleh Afit Riawan

Sungguh tak pernah pemilihan umum seindah ini. Hanya ada dua calon Presiden membuat perhelatan sepertihalnya serunya sebuah pola Final Ideal pertandingan sepak bola. Dua calon dan pendukungnya menjadi dua daya-upayanyayang sama kuat, dan koalisi sama-sama erat. Hingga pertarungan isi padat kala masa debat. Kecintaan massa pada calon presidennya yang seratuspersen adalah nyata realita suatu indikasi positif. Karena majunya bangsa harus terbungkusseimbang sinergis: presiden aktif dan rakyat partisipatif. Tidak yang menang baik nomor satu atau dua. Tidak pula dimenangkan oleh Bowo atau Widodo. Pemenang adalah pemilih, pemilih adalah rakyat. Pemenang adalah rakyat, rakyat adalah pemenang. Ini kemenangan semua baik yang memilih no. 1, yang memilihnomor no. 2, maupun yang memilih untuk tidak memilih. Aku, setidaknya ada empat orang sahabat Mereka tak pernah peduli “pencoblosan” apalagi terlibat. Tapi kehadiran dua putra terbaik bangsamampu membangkitkan akal sehat dan rasakepedulian untuk Indonesia tercinta membiarkan waktunya sejenak tersita mambuat jadi jarinya tercelup tinta. Sampel yang bisa jadi terjadi daerahlain dan menjadi representasi sejarahbahwa rasa cinta rakyat pada pemimpin dan negarasedang mulai bangkit di seluruh nusantara. Karena kita pun dapat melihat gelombang antusiasmelewat layar kaca yang menggejala tanpa mekanisme. Mari kita bermain ular tanpa tangga. Cobra patukannya melegenda tanpa harus pandai melilit. Python lilitannya meleganda tanpa harus pandai mematuk. Indonesia hanya perlu mengoptimalkan kekayaanalamnya sebagai senjata utama untuk kemajuan. Indonesia negara: agraris dan maritim. Baru berbarengan sektor-sektor lain. Jawabnya adalah benar, jika Widodo hanyalah boneka. Jika Muhammad adalah “boneka” Tuhan bagi umat manusia. Dalam lingkup lain, Widodo hanyalah boneka-Nya untuk Indonesia. Seorang boneka ramah dan amanah bagi rakyat Bhineka Tunggal Ika.