🪷 Bijaksana

NARASI HUJAN DI LANGIT NONGSA

Oleh Mengunjungi Hujan

Bila laut hanyalah tabir pemisah Sungguh telah selesai ku kunjungi Pada pertemuan yang pertama Bila anehnya oksigen di atmosferismu Hanyalah hijab yang menghalangi Telah ku sesaki paru-paru 'Tika memburu nuansamu di bibir hari Dari jembatan asumsi Sebait puisi sekarat Saat cerawat tersesat Di cemberut kabut Menyelisik pelik sandi-sandi cedera Hanyalah sketsa tanpa rupa Berdesakan diasing galeri topeng-topeng Memaksa hening di riuh polusi kota Menyandra lugu Tidak kunjung bertemu Sedang kaca-kaca gedung memalsu Pigura-pigura kaligrafi Gagal teridentifikasi Kesudahan semua hilang Pun para pendongeng Yang kemarin mengisah hikayatmu Beragam deskripsi yang tertinggal Sajikan ruwet episode novel tak tamat Sekedar hujan dan mendung Begitu aneh mengakrabi sandal jepit Sejauh jari-jemari berbaris rumit Menemani pekan para pengunjung Mencerai oksigen penghabisan Di langit pulaumu aku bernarasi Kiranya mega di senjamu Pun terlalu pecemburu Sembunyikan kirana Membiar asingmu tetap misteri Tertutup rapi tanpa konklusi (Kenangan aneh sepekan di batam, yang selalu ditemani mendung dan hujan)