MY PRINCE
Oleh Arsyta Rochmatul Laily
Tatapan mata itu
Aku masih dapat mengingatnya di memoriku meskipun hanya singkat engkau hadir di hidupku
Mata yang berisi penuh harapan
Mata yang hangat namun tajam Yang terus menatapku hingga menembus bola mataku yang bulat
Terpaku aku saat engkau tak mengalihkan pandanganmu padaku
Aku hanya tersipu malu dan hatiku tergelitik karenamu Karena tingkah lucumu,
Ataukah karena matamu yang sama bulatnya denganku???
Aku juga tak tahu
Hanya kaulah yang pernah menatapku penuh arti, aku yang hanya seorang gadis biasa
Langit serasa tumpah di mataku, pelangi berkelebatan, senyum bertaburan di bibirku andai aku tak bisa menahannya
Satu hari Hanya satu hari spesialmu yang telah kau tawarkan dan serahkan padaku
Duduk di bawah payungan pohon-pohon yang tumbuh teratur Dinaungi oranye lagit senja yang mulai tiba
Memandangimu dengan gembira
Memandang wajahmu dalam ayunan jungkat-jungkit Ke atas, ke bawah, naik, turun
Aku terus memandangimu tanpa bosan
Entah magnet apa yang kau gunakan untuk menarikku
Rambutmu yang ikut terayun, terkena hembusan angin senja yang lembut
Menerpa rambutmu yang ikal cepak
Menerpa rambuutku yang juga ikal terkuncir
Menerpa wajah kita berdua, lembut
Semakin membuatku terbuai
Menghembuskan nafasku bersamanya Mungkin nafas benih-benih suka Terima kasih pangeranku,
Meskipun hanya singkat waktumu yang kau sisihkan untukku
Namun itu sangatlah berarti dan berkesan
Melengkapi bagian serpihan puzzle cerita hidupku Terima kasih pangeranku,
Walau hanya sementara menjadi pangeranku
Walau hanya sementara kegembiraan yang kau berikan
Akan tetap kukenang dirimu
Tak akan kusesali tiap detik yang pernah ku lewati bersamamu
Makan mie ayam di warung jalanan bersamamu
Makan puding di pinggir danau bersamamu
Itu semua sederhana, tapi dengan sihir ajaibmu
Kau ubah semuanya menjadi lebih istimewa saat itu bersama dirimu
Terima kasih pangeranku, Telah menggengggam tanganku
Menggenggamku dengan hangat dan tulus
Telah menggenggam tanganku
Saat kau kesakitan karena sakitmu
Melindungiku dengan tubuhmu yang sekarang terlihat lebih tinggi dan tegap
Mengizinkanku memeluk punggungmu yang selalu kulihat saat kau pergi Terima kasih pangeranku,
Telah mengajakku tertawa bersamamu
Telah mengajakku bersenda gurau bersamamu
Telah membuatku meneteskan air mataku untukmu
Terima kasih pangeranku,
Telah menggoreskan bermacam warna pelangi dan kelabu di hidupku
Merah saat aku mulai menyukaimu
Jingga mungkin saat aku mulai sayang padamu yang telah lebih dulu menyayangiku
Kuning saat aku merasa gembira, tertawa lepas, senang saat kau menggodaku dengan candamu
Hijau saat aku merasa teduh barada di dekatmu
Biru saat aku nyaman dan tenang bersamamu
Nila saat aku tersipu karena kau yang memanjakanku dan romantis padaku
Ungu saat kusadari kau mulai berubah dan parahnya aku tak tahu penyebabnya hingga detik ini
Kelabu saat yang paling aku benci, kau meninggalkanku secara perlahan dan hatiku terasa tercabik
Tak mampu ku bendung air mataku
Menetes begitu saja tanpa terkendali saat coba mengenangmu denganku
Maafkan aku jika aku tak bisa berdamai denganmu karena rasa sakitku
Maafkan aku jika aku mengabaikanmu saat kau sadar akan salahanmu karena hatiku yang belum mau terbuka
Maafkan aku jika aku terlambat menyadari rasa ini hingga akhirnya kau pergi
Kumaafkan pula semua salahmu padaku
Kumaafkan pula janji-janji manismu yang teringkari
Kumaafkan pula kenangan pedih yang kau beri untukku
Kini hanya rindu yang menggelayutiku saat kau tak lagi ada disini
Kini hanya kesepian yang menerpaku tiap kali aku sendiri
Kini hanya kekosongan yang menyergap tiap kali aku menangis sedih
Kini aku hanya bisa melihatmu telah bahagia dengan gadis pilihanmu Dan biarkanlah aku sendiri yang merasakan sakit ini, tak perlu kau dan gadismu
Hiduplah bahagia lebih dari yang kau harapkan bersama dengannya
Dan biarkanlah aku seorang yang menanggung sepi ini, tak perlu kau dan gadismu
Maafkanku yang pernah iri melihatmu bahagia tanpaku