🪷 Bijaksana

MY PRINCE

Oleh Arsyta Rochmatul Laily

Tatapan mata itu Aku masih dapat mengingatnya di memoriku meskipun hanya singkat engkau hadir di hidupku Mata yang berisi penuh harapan Mata yang hangat namun tajam Yang terus menatapku hingga menembus bola mataku yang bulat Terpaku aku saat engkau tak mengalihkan pandanganmu padaku Aku hanya tersipu malu dan hatiku tergelitik karenamu Karena tingkah lucumu, Ataukah karena matamu yang sama bulatnya denganku??? Aku juga tak tahu Hanya kaulah yang pernah menatapku penuh arti, aku yang hanya seorang gadis biasa Langit serasa tumpah di mataku, pelangi berkelebatan, senyum bertaburan di bibirku andai aku tak bisa menahannya Satu hari Hanya satu hari spesialmu yang telah kau tawarkan dan serahkan padaku Duduk di bawah payungan pohon-pohon yang tumbuh teratur Dinaungi oranye lagit senja yang mulai tiba Memandangimu dengan gembira Memandang wajahmu dalam ayunan jungkat-jungkit Ke atas, ke bawah, naik, turun Aku terus memandangimu tanpa bosan Entah magnet apa yang kau gunakan untuk menarikku Rambutmu yang ikut terayun, terkena hembusan angin senja yang lembut Menerpa rambutmu yang ikal cepak Menerpa rambuutku yang juga ikal terkuncir Menerpa wajah kita berdua, lembut Semakin membuatku terbuai Menghembuskan nafasku bersamanya Mungkin nafas benih-benih suka Terima kasih pangeranku, Meskipun hanya singkat waktumu yang kau sisihkan untukku Namun itu sangatlah berarti dan berkesan Melengkapi bagian serpihan puzzle cerita hidupku Terima kasih pangeranku, Walau hanya sementara menjadi pangeranku Walau hanya sementara kegembiraan yang kau berikan Akan tetap kukenang dirimu Tak akan kusesali tiap detik yang pernah ku lewati bersamamu Makan mie ayam di warung jalanan bersamamu Makan puding di pinggir danau bersamamu Itu semua sederhana, tapi dengan sihir ajaibmu Kau ubah semuanya menjadi lebih istimewa saat itu bersama dirimu Terima kasih pangeranku, Telah menggengggam tanganku Menggenggamku dengan hangat dan tulus Telah menggenggam tanganku Saat kau kesakitan karena sakitmu Melindungiku dengan tubuhmu yang sekarang terlihat lebih tinggi dan tegap Mengizinkanku memeluk punggungmu yang selalu kulihat saat kau pergi Terima kasih pangeranku, Telah mengajakku tertawa bersamamu Telah mengajakku bersenda gurau bersamamu Telah membuatku meneteskan air mataku untukmu Terima kasih pangeranku, Telah menggoreskan bermacam warna pelangi dan kelabu di hidupku Merah saat aku mulai menyukaimu Jingga mungkin saat aku mulai sayang padamu yang telah lebih dulu menyayangiku Kuning saat aku merasa gembira, tertawa lepas, senang saat kau menggodaku dengan candamu Hijau saat aku merasa teduh barada di dekatmu Biru saat aku nyaman dan tenang bersamamu Nila saat aku tersipu karena kau yang memanjakanku dan romantis padaku Ungu saat kusadari kau mulai berubah dan parahnya aku tak tahu penyebabnya hingga detik ini Kelabu saat yang paling aku benci, kau meninggalkanku secara perlahan dan hatiku terasa tercabik Tak mampu ku bendung air mataku Menetes begitu saja tanpa terkendali saat coba mengenangmu denganku Maafkan aku jika aku tak bisa berdamai denganmu karena rasa sakitku Maafkan aku jika aku mengabaikanmu saat kau sadar akan salahanmu karena hatiku yang belum mau terbuka Maafkan aku jika aku terlambat menyadari rasa ini hingga akhirnya kau pergi Kumaafkan pula semua salahmu padaku Kumaafkan pula janji-janji manismu yang teringkari Kumaafkan pula kenangan pedih yang kau beri untukku Kini hanya rindu yang menggelayutiku saat kau tak lagi ada disini Kini hanya kesepian yang menerpaku tiap kali aku sendiri Kini hanya kekosongan yang menyergap tiap kali aku menangis sedih Kini aku hanya bisa melihatmu telah bahagia dengan gadis pilihanmu Dan biarkanlah aku sendiri yang merasakan sakit ini, tak perlu kau dan gadismu Hiduplah bahagia lebih dari yang kau harapkan bersama dengannya Dan biarkanlah aku seorang yang menanggung sepi ini, tak perlu kau dan gadismu Maafkanku yang pernah iri melihatmu bahagia tanpaku