MUTIARA SELATAN
Oleh Faza Candikya Dhanadi
Sang fajar menyinsing di hari yang cerah
Terhirup udara segar di sawah
Entah di sana terdengar sebuah suara
Fisik sang petani bertambah semangat cari rezeki
Indahnya sawah ini
Namanya tersahut ketika melihat dia
Aku menjumpai sebuah rel di sana
Alam semesta ini
Sawah yang luas dengan bukit menjulang tinggi
Ada sebuah rel menikung indah hingga menanjak bukit itu
Datanglah dia dengan suara merdu
Hatiku senang dan gembira mengabadikannya
Kemudian dia meliuk ke atas bukit hingga hilang
Di situ ia masih menatapkan wajahnya
Hingga ia hilang di balik bukit
Saatku berjalan di rel
Pada saat itu sebuah cinta baru telah lahir
Dibalik semua kebencian
Saat itulah aku jatuh cinta dengannya
Aku mengejar cintanya dengan usaha dan harapan
Senyumnya masih terkenang saatku sekelas dengannya Sekarang musim telah berganti
Sifat dia berubah
Kini mencintai dia semakin susah
Aku hanya bisa bersabar dan tabah
Berharap dia bisa tersenyum kembali seperti semula
Aku ini pendiam
Aku hanya bisa berdoa
Berharap aku berhasil mencintai dia
Dengan hati yang tulus
Saling toleransi dan menghargai
Yang menjadikan cintaku adalah cinta suci
Meski kita berpisah pandangan
Aku berharap suatu hari kita bisa bersatu
Dimana ada padang rumput yang luas
Ketika senja mulai tiba
Sebuah bukit berdiri sebuah pohon apel yang indah
Di situlah kita melepas rindu
Di situlah cinta mengalahkan segalanya
Kini sore hari di Stasiun Bandung
Aku mengirim segumpal surat cinta untuk dia
Semboyan 35 di bunyikan
Mutiara Selatan mengantarkan surat cintaku untuk dia
Tidak tahu kapan tibanya di tujuan
Yang pasti aku menantimu
Kini ia masih dalam perjalanan...