🪷 Bijaksana

MENUNGGU WAKTU

Oleh Syifa Rahmatika

Di saat hari berlalu Saat sang langit menoreh biru Di mana ku tutup semua yang lalu Dan membuka lembaran baru Ku kepalkan hatiku Hingga ia sekeras batu Dimana tertoreh luka membeku Karena dia di masa lalu Hingga suatu hari yang baru Dia datang menghampirikuBukan! Bukan dia sang masa lalu Tapi dia yang mengingatkanku Mengingatkanku padanya Dengan tidak sopannya dia mendobrak memoriku Mengingatkanku pada sang masa lalu Membuka luka yang telah lama membekuSungguh! Aku sangat membencinya! Ku tau dia tak bersalah Tapi dia membuatku jadi serba salah Lembaran langit tertutup biru sempurna Disaat itu juga, saat sang langit mulai kelabu Kelabu dalam hari hari sendu Dia mengubah segalanya Dia benar benar merubah segalanya Dia menorehkan canda yang menyentuh jiwa Dia umbarkan tawa bahagia Oh Tuhan, apakah ini semua karma? Aku membencinya hanya kemiripannya Dengan sang masa lalu Tapi, dia juga yang membuatku bangkit Akan perih yang menderu Dia juga yang bisa membuatku hilang Hilang ingatan akan masa lalu Hanya dia yang selalu menemani hariku Hanya dia yang mengobati segala kesedihanku Oh Tuhan, ini memang karma Aku takluk padanya Dia menjadi canduku Dia pelepas rinduku Rindu yang menggelora Membuncah dalam dada Harus kuakui, aku mencintaimu Ya, aku mencintaimu Hanya namamu yang terpahat di hatiku Hanya wajahmu yang terlukis di benakku Sangat senang dan tak terhingga rasanya Saat aku bertemu denganmu Tapi aku rasa hampa bila tak ada kicauan darimu Oh mengapa harus dirimu? Maafkan aku pernah membencimu Aku bahkan tak mengerti apa yang ada di otakku Aku mencintaimu Rasa itu terus berkembang, terud mekar dan melebar Hingga kita, ah lebih tepatnya kau sadar Akan jurang yang memisahkan kita Jurang itu seakan mengatakan "lupakan segalanya!""Semuanya kembali normal, semuanya."Kutipan kata itu seakan menikamku Menghujamku tanpa henti Kita benar benar asing sejak itu Apa arti semua kata katamu? Begitu kejamnya kah kau padaku? Aku tahu, bila kita bersatu Jurang itu semakin lebar tak menentu Tapi aku tahu, hati tak mudah berubah Aku tetap merasakan hatimu tetap untukku Sejenak kita lupakan jurang pemisah Dan pergi bersama Walaupun semua terasa berbeda Aku tetap tak akan mengubah perasaanku Kita asing, tapi akrab Kita jauh, tapi dekat Kita menentang, namun mengiyakan Itulah kita sekarang Tapi aku tak peduli Aku tetap tak peduli Aku tetap mencintaimu Aku tak mudah berubah Dan aku tahu kau pun begitu Kata katamu polosmu cukup membuktikanku Kita hanya perlu menunggu waktu Kau tahu? Aku selalu menyebut namamu Dalam ucapan, kalimat, bahkan doa ku Kau terlalu penting bagiku Dan sekali lagi, Kita hanya perlu menunggu waktu.