🪷 Bijaksana

KITA MASIH HARUS TURUN KE JALANAN

Oleh Rusminah Qumainah

Menyalakan pelita harap di tengah deru jalan raya. Menadahkan tangan pada sebarisan kendaraan yang lalu lalang, melesakkan panah mimpi ke tengah jantung kota ini. Kita masih harus turun ke jalanan. Menepiskan gerimis sekalipun ia menjelma badai. Menerobos hujan, walau ia nanar membekukan sejuta kesempatan. Di pagari garis suratan yang membiru malamkan segala kehidupan pinggiran. Mata-mata yang nyalang tak lagi peduli malam atau pun siang. Kita masih saja berhimpitan dalam gerbong-gerbong kelas ekonomi. Atau berjejeran menyenandungkan serenade anak jalanan di sepanjang trotoar kehidupan. Dan mungkin masih mengiris sebentuk tangis di bawah jembatan yang ditinggalkan. Kita masih harus turun ke jalanan. Mengkiblatkan wajah pada ruang-ruang pengap di sudut peradaban. Mengerotiskan tarian-tarian permisif atas segala kesopanan, dari bar ke bar. Sebagian juga kerap berbuka paha menjanjikan keriuhan surga. Sementara seniman-seniman penabuh genderang kaleng masih merapalkan nyanyian kemarin. Di setiap perempatan lampu merah, mata-mata tak berdosa yang mulutnya beraroma lem kimia, berlarian mengitari jalan menyongsong mobil sedan seorang anggota dewan. Kita masih harus turun ke jalanan. Menggelar baliho, pamflet dan ratusan selebaran. Sibuk mengkritisi penguasa yang telah kita pilih tempo hari. Menghujat kemelaratan yang masih setia bergelayut manja di leher kita. Atau sekadar berebut bantuan beberapa liter beras untuk makan. Kita masih memetakan arah perjalanan panjang ini, masing-masing bersaing dalam kiprah tak kenal kompromi. Kau bisa saja leluasa menjual anak-anakmu, atau menggadaikan harga dirimu. Pun mungkin aku bisa saja sejenak menjelma kanibal pemangsa sesama. Kita masih harus turun ke jalanan. Menyalakan pelita harap di tengah deru jalan raya. Mensiasati nasib yang seakan enggan memihak kemiskinan. Masih bergerilya di belantara kota, yang menyamarkan berjuta wajah kita. Masih di bawah lampu jalanan, memberhalakan hasrat para bidadari panggilan. Tak mengapa jika mesti terlena pada sebotol air mineral di oplos alkohol dan cairan pembasmi nyamuk, atau mau teler dengan racikan obat batuk. Ini malam adalah sudah serba terserah, semua sah !! Atau kau mau menangis ? Seperti seorang remaja di ujung gang sana yang barusan diapeli pacarnya, dan kehilangan miliknya yang paling berharga. Atau dia, seperti pria separuh wanita yang kerap menyibukkan diri minta kesetaraan dan penerimaan yang selayaknya manusia. Kita masih harus turun ke jalanan. . . Menyaksikan anak-anak bumi ini yang tengah membuat sejarah mereka sendiri. Yang tak tersentuh tangan nyaman kelayakan hidup. Yang tak terjamah tangan bijaksana pendidikan. Mereka telah melampaui batas mampu kepapaan yang tak punya apa-apa. Tapi jalanan telah begitu baik pada mereka. Di sana bisa hidup, sekolah, makan, menjalin harapan, berteman, menjelma preman, di jalanan kita bebas berkembang biak, membuat anak dan beranak. Dan sesekali lampu merah berwarna serupa darah.