KETIKA, KETIKA, KETIKA
Oleh Rachmadiar Perdana
Ketika satu pohon tercabut dari bumi
Akan tersisa satu lubang kekosongan
Satu persatu pohon tercabut
Lubang-lubang itu tambah banyak, tambah banyak
Perlahan-lahan pohon itu pun habis
Tapi lubang-lubang itu tetap bertahan
Semua mungkin akan musnah
Semua mungkin akan berakhir
Semua mungkin akan jenuh
Semua mungkin akan tertahan
Tapi kehampaan itu bertahan
Dia tak akan mudah lepas
Dia tak akan pernah pudar
Siapa yang sirna, siapa yang hina
Terkandung dalam benalu-benalu parasit
Yang mengisap hidupku, hidupmu, dan hidup kita
Siapa yang tertindas, siapa yang terlindas
Terjatuh di bawah kaki-kaki para punggawa
Mengangkat sang raja yang sedang tertawa
Tak hanya kelopak mawar yang gugur
Duri-durinya pun ikut gugur
Tangkai-tangkainya pun ikut gugur
Daun-daunnya pun ikut gugur
Melapuk dalam usia, meratap dalam resah
Bangkai-bangkai pasti tercipta
Tak ada yang bertahan
Tak akan ada yang abadi
Tak akan ada, tak mungkin...
Aku terinjak, aku tertikam