🪷 Bijaksana

KEBIASAAN

Oleh Luh Gede Divayani

Aku mulai menggantinya. Mencoba menemukanmu dalam cara yang kubisa. Aku menyesap kopi hitam pekat di pagi hari. Hingga pahitnya tak kurasa lagi. Hanya untuk mengenang pahit bibirmu saat merayuku. Dalam setiap teguknya selalu kucari hal yang sama. Rasa manis gula yang katanya ada. Tapi, kaulupa--atau sengaja--tidak menambahkannya. Lalu, aku meminumnya lagi pagi ini. Sayang, kopiku berubah. Tak pahit juga manis. Ia hanya hitam yang makin hitam dan asin. Aku mulai mengubahnya. Kecintaanku pada aroma dupa cendana telah sirna. Aku menghirup asap rokok yang sering kauisap dulu. Hanya untuk menemukanmu dalam kepulan asap--kali saja--membentuk wajahmu saat kuembuskan. Tapi, aku terbatuk karena terantuk kenyataan. Lalu, aku membakarnya bersama kemenyan. Sayang, ia tetap utuh sedang milikku terus terbakar. Asapnya pergi dan ia mengabu. Seperti aku saat ini, menunggu 'bade' pengabenan. Aku masih mendengar suaramu yang dibawa awan-awan jadi bantal malamku. Hujan turun melewati awan dan menggenangi bumi. Kilat terus mencambukinya dengan rasa sakit tak terperi. Lalu, aku lupa bahwa mimpi-mimpi yang kautitipkan pada puisi-puisi itu hanya semata diksi. Juga ayat suci yang kaubisikkan sebagai janji tak kudengar lagi. Mungkin, kini aku yang membiasakan diriku menjadi tuli. Aku masih menikmatinya: kebiasaanku Sedang kau menggantinya: kebiasaanmu Akan ada harinya nanti kebiasaan itu tak kaurindukan lagi. Sebuah sapa dalam setangkup roti rindu dan secangkir teh cinta yang mulai basi. Kening yang kaukecup dan bibir merajuk manja berbisik mesra. Juga mata sayu yang meminta cumbu di ranjangmu satu-satu. Menjadikan dirinya ungu membiru. Bukankah kau memiliki kebiasaan baru? Pergi menikmati senja di hari Minggu. Aku ingat kau tak suka senja karena kita sama-sama mencintai hujan. Mungkin memang dirimu telah berlalu seperti hujan yang biasa pergi di akhir bulan. Cuaca sudah berubah, Kiran. Ayo, kita pulang! Bukankah dulu sudah kubilang bahwa kau akan terluka sekarang. Percayalah tak ada jalan untuk kembali datang. Semuanya: segala rindu, kecintaan dan kenangan. Kebiasanmu itu harus Cuaca sudah berubah, Kiran. Cuaca sudah berubah, Kiran. Ayo, kita pulang! Bukankah dulu sudah kubilang bahwa kau akan terluka sekarang. Percayalah tak ada jalan untuk kembali datang. Semuanya: segala rindu, kecintaan dan kenangan. Kebiasanmu itu harus Cuaca sudah berubah, Kiran. Ayo, kita

Puisi Lainnya

CINTAIMU Oleh Luh Gede Divayani