🪷 Bijaksana

KASMARAN MEMBUNGA

Oleh Wahyudin Rifai

Sebenarnya lelaki itu sedang bediri Di tubir licin jalan berbatu Di lembah curam jurang dalam Diakrabinya dengan senyuman Begitu yakin tentang ketentuan Begitu naif mencandai kenyataan Puisi cintanya melulu tentang bunga dan rembulan Kadang, premis alam mencumbunya dengan keabadian Tak pelak menggeming Tuah berkah menyungging kasih Cengkrama alih-alih Baginya, tawaran cinta dari Sang Maha Lebih dari segenap indah Baginya, sinar rembulan menerpa bunga, Lebih indah bercahaya Dari kelamnya rayuan angin nestapa Entah sampai bila.... Lelaki itu bertahan merasa gagah Sebab kuasa masa tak memberinya Walau sekadar nuansa Di ufuk sunyi Di tahta elegi Bunga kelak kan layu Namun jiwanya memutik baru Rembulan kan beringsut meredup Namun zahirnya mendedah Sederhana beban hidup Ia pecinta malam Dimana kesyahduan tiada khianat Dimana cinta, tulus bagai azimat Bukan hendak berlari dari mentari Nyata ia tegar menantang hari Hanyalah satu yang kerap ia hindari, Pertemuannya dengan ramainya sunyi Lelaki itu, bunga dan rembulan Menyatu dalam cinta abadi Walau realita kerap mengurai nisbi Makna cinta begitu agung menjanji Tentang esok yang tiada pasti Tentang doa-doa yang tersisipi Dimana cintanya hanya bisa ia sampaikan lewat puisi Di bayang-bayang ironi sanggup, Kasmaran membunga yang membuatnya tetap hidup

Puisi Lainnya

UNTUK YANG TERSAYANG Oleh Wahyudin Rifai