HUJAN
Oleh Muslihin Abdillah
Gemericik senandung luluh merayu hati,
Terjamah larutan mensiasati.
Terus menyabani hingga rengkarnasi.
Putih sejuk teramat berarti.
Senantiasa menanti keputusan Tuhan kapan ia akan pergi.
Bila sampai waktu nya,
Tetes demi tetes kian mengurai awan.
Gemuruh kilat pelepas ikatan.
Melepas hasrat bercinta tak terhelakan,
Rayuan pulang tak hiraukan.
Merintih seduh sedan tiada guna.
Hingga hujan mengiklaskan semua
Demi senyuman yang menghianatinya,
Yang tak terima akan kehadirannya
Tanpa menyadari ia pantas untuk jatuh.
Jambi, 5 Mei 2017