🪷 Bijaksana

HANYALAH PENINGGALAN

Puisi Hugo Gian

Liak liuk tangga itu semakin tinggi dan meninggi Jika nantinya jatuh itu akan sakit Jika nantinya terbang dan nanti juga jatuh Dan itu sakit... dan itu lara... dan itu musnah Debu tinggallah debu berbeda dengan apa yang dijanjikan ibu Berkata dulu ayah Tanah terjanji itu akan segera datang Ayah pasti membual Ayah pasti tak akan benar Ibu tak pernah jadi debu Walaupun esok jadi abu Ibu akan tetap tinggal Tapi tidak akan ada yang tertanggal Andaikan benang-benang kusut itu saling beradu lagi Semua kerumitan menjadi- jadi dan terjadi Oh hidup.... terlalu bergantungkah aku padamu? aku mencintai diriku tapi tidak dengan dosa asalnya.. Ayahku seorang yang tidak baik Ibuku juga belum orang yang sempurna Orang tua tidaklah selalu terdepan garda yang terdepan tetap di tangan Mu Dosa ayah menjadi dosaku Dosa ibu menjadi dosaku Ayah dengan tanah terjanjinya itu adalah mimpiku Ibu dengan naungannya adalah tempat tinggalku dan aku tidak akan pernah meninggalkan mimpiku Tanah terjanji yang berupa tempat ku bertinggal Oh dosa Ayah Wahai dosa ibu denganmu aku hidup denganmu aku merajai hariku selalu Andai waktu nanti datang Janganlah Kau datangkan terlalu cepat Berilah kami kesempatan walaupun sekelibat kilatan petir supaya aku bisa menebus dosa tinggalan ayah ibu Dan nantinya andaikan aku mati nanti semua malaikat meniup terompet dosa asal itu sudah pergi serta tinggallah aku dengan ayah dan ibu tanpa sekelumit dosa di atas sana Dosa tetaplah dosa Asal tetaplah asal dosa asal tak pernah asal dan selalu tinggal Namun Dia yang merajai waktu tidak akan selalu melekatkan dosa asal Selalu..... Selalu Padamu Padaku Pada Ayah Pada Ibu dan pada tua tua yang ada