🪷 Bijaksana

GIVE UP

Oleh Fadhil Rizqan

Istanaku lembah berkabut kelabu. Banyak kehidupan tapi tak ada kehidupan. Raungan serigala bagai lagi-lagu cinta ditelingaku. Setiap hari bahkan setiap saat aku mengharapkan seorang tamu yang datang tapi kesendirian adalah takdir lembah ini. Setiap aku terjaga aku menunggu kematianku. Tetapi malaikat maut adalah satu-satunya temanku di istana ini. Seolah tak tega mencabut nyawaku dia hanya duduk termenung disampingku. Hutan ini dipenuhi aroma anggur dan vodka walaupun gelap mataku masih bisa melihat bayang-bayang pohon pinis yang menjulang kelangit. Seolah-olah dibalik setiap pohon itu para serigala menunggu dan siap menerkamku. Hujan mengalahkan semuanya. Hewan buas sekalipun semua kembali menuju sarangnya. Tak ada satu kehidupanpun yang berani menentang kesedihan langit ketika ia menangis. Hanyalah petir dan cahaya bulan yang menerangi lembah ini. Seolah mataharipun nggan untuk membagi setitik cahayanya untukku. Tetapi tangis kesedihanku lebih mengerikan daripada hujan badai sekalipun karna dilandasi dengan rasa penyesalan yang mengakar kedalam hati. Kesedihan ini memaksa alam untuk mengiba kepadaku. Membuat hitamnya pelangi. Membuat gerah embun pagi. Membuat tetes hujan seakan mendidih. Semua warna hijau hutan ini menjadi coklat kering. Seisi lembahpun menangis membuatku merasakan gemeretak tulang-tulang bukit. Kupasrahkan kisahku di ayunan lengan takdir. Cinta dan benci susah dan senang bahagia dan menderita. Aku sudah mati rasa terhadap semua itu. Kini aku tak lebih dari sesosok mayat hidup yang menunggu kematian untuk kesekian kalinya. Kehidupan makin terasing dalam lamunanku. Aku sudah tak marasakan adanya nyawa didalam tubuhku yang lunglai ini. Bahkan burung pemakan bangkaipun enggan untuk memakan jasadku yang busuk ini. Bayang-bayang cahaya mengabur dalam pandanganku. Bagaikan sebuah mimpi cahaya itu terkadang berwarna putih,merah juga kuning. Tapi aku terlalu lemah untuk menggapainya. Hingga akhirnya aku berhenti berharap. Dan menungu datang gelap. Sampai nanti suatu saat tak ada cinta kudapat. Dan semuanya pun berujung pada satu titik jenuh yang menjadi pelabuhan terakhir bagi semua kehidupan yaitu kematian.