GIVE UP
Oleh Fadhil Rizqan
Istanaku lembah berkabut kelabu.
Banyak kehidupan
tapi tak ada kehidupan.
Raungan serigala bagai lagi-lagu cinta ditelingaku.
Setiap hari
bahkan setiap saat aku mengharapkan seorang tamu yang datang
tapi kesendirian adalah takdir lembah ini.
Setiap aku terjaga
aku menunggu kematianku.
Tetapi malaikat maut adalah satu-satunya temanku di istana ini.
Seolah tak tega mencabut nyawaku
dia hanya duduk termenung disampingku.
Hutan ini dipenuhi aroma anggur dan vodka
walaupun gelap
mataku masih bisa melihat bayang-bayang pohon pinis yang menjulang kelangit.
Seolah-olah dibalik setiap pohon itu para serigala menunggu dan siap menerkamku.
Hujan mengalahkan semuanya.
Hewan buas sekalipun
semua kembali menuju sarangnya.
Tak ada satu kehidupanpun yang berani menentang kesedihan langit ketika ia menangis.
Hanyalah petir dan cahaya bulan yang menerangi lembah ini.
Seolah mataharipun nggan untuk membagi setitik cahayanya untukku.
Tetapi
tangis kesedihanku lebih mengerikan daripada hujan badai
sekalipun
karna dilandasi dengan rasa penyesalan yang mengakar kedalam
hati.
Kesedihan ini memaksa alam untuk mengiba kepadaku.
Membuat hitamnya pelangi.
Membuat gerah embun pagi.
Membuat tetes hujan seakan mendidih.
Semua warna hijau hutan ini menjadi coklat kering.
Seisi lembahpun menangis
membuatku merasakan gemeretak tulang-tulang bukit.
Kupasrahkan kisahku di ayunan lengan takdir.
Cinta dan benci
susah dan senang
bahagia dan menderita.
Aku sudah mati rasa terhadap semua itu.
Kini aku tak lebih dari sesosok mayat hidup yang menunggu kematian untuk kesekian kalinya.
Kehidupan makin terasing dalam lamunanku.
Aku sudah tak marasakan adanya nyawa didalam tubuhku yang lunglai ini.
Bahkan burung pemakan bangkaipun enggan untuk memakan jasadku yang busuk ini.
Bayang-bayang cahaya mengabur dalam pandanganku.
Bagaikan sebuah mimpi
cahaya itu terkadang berwarna putih,merah
juga kuning.
Tapi aku terlalu lemah untuk menggapainya.
Hingga akhirnya aku berhenti berharap.
Dan menungu datang gelap.
Sampai nanti suatu saat tak ada cinta kudapat.
Dan semuanya pun berujung pada satu titik jenuh
yang menjadi pelabuhan terakhir bagi semua kehidupan
yaitu kematian.