ENDAPAN KERINDUAN DI HARI NANTI
Oleh Torikul Fauzi
Malam yang semakin gulita Angin malam membentangkan selimut kantuk dipangkuan bumi
Ngengat malam sedikit membisikkan tasbih di atas rerumputan yang berembun. Bintang gemintang dengan malu-malu mengedipkan mata dari balik awan putih yang terlihat gelap. Aku termenung dengan seribu gambaran dalam dimensi imaji yang penuh prasangka. Hanya sedikit kenyataan yang menemaniku. Di saat itu pula aku harus bersabar, agar malam tak semakin menimpaku dengan ketakutan tentang masa depan.
Sebenarnya aku tak rela kehilangan sahabat. Begitu
aku sadari semakin lama ku temukan kejernihan fajar surgawi dibalik
riuh rendahnya suara pertemuan kami dalam rengkuhan hari-hari nan
panjang dan melelahkan. Berapa banyak waktu yang kujalani bersama
sahabat-sahabatku dalam perkiraan asa tentang masa depan yang selalu
indah dalam imaji. Harapan-harap cemas tentang gambaran masa yang tak akan pernah kami ketahui. Sering kali aku bersungguh-sungguh menyesali kebodohan dan kealpaan bersama dalam sebuah angan-angan nanar membalur jiwa. Sampai
aku benar-benar menyadari bahwa akulah yang tak pernah merelakan
tentang masa ini, masa yang akan menjadi masa lalu di masa depan kita.
Berapa banyak pula waktu yang di masanya kutahan hingga sekujur sukma membekas jejak yang tak akan pernah sirna. Menanggung sakit dengan segala riuh rendah dalam keluh kesah kebersamaan. Terkadang
aku harus tergores duri kerikil di bawah jubah kesabaran dalam anggapan
bahwa kebenaran dan kebajikan harus ku pegang erat-erat dalam nurani. Tapi,
aku harus terpana di tengah dinginnya kesepian ini, ketika kubuka jubah
itu, ku lihat sakit yang telah tertoreh telah berubah menjadi
kesenangan dan sayatan-sayatan itu telah menjadi kesejukan dan batu
kerinduan yang menohok jiwa kerdilku ini. Jika semuanya telah menepi di bibir jurang pemisah.
Tatkala kusadari hari-hariku akan segera berakhir bersama semuanya. Dan
berlari darinya sampai aku yakin bahwa waktuku yang kurajut seperti
epos yang tidak pernah terulang danmasa yang akan kutapaki adalah epos
yang tidak pasti kugapai. Setelah semuanya telah mendapatkan apa yang diinginkan dalam hingar bingar kebersamaan ini. Dan bersiap-siap meninggalkan maskapai yang tak akan pernah didatangi lagi. Jika
aku harus mengingat semua narasi yang telah kami rajut bersama, seakan
aku tak pernah rela jika Tuhan harus menciptakan perpisahan. Karena hanya sedikit saja melodi persahabatan dan persaudaraan yang akan kekal sepanjang hayat di sela-sela hati kami.
Aku harus selalu menyesal, jika selalu hidup dalam sebuah terminal kehidupan. Tempat yang akan selalu menjadi arena pertemuan dan perpisahan. Hanya sedikit saja waktu untuk saling bercengkrama dalam suasana penuh canda dan tawa. Setiap
ku singgahi terminal itu, aku selalu menatap tajam teman-teman yang ada
di hadapanku sambil berlalu meninggalkan tempat menunggu kendaraan
selanjutnya. Namun, saat aku harus meninggalkannya, seakan jiwa
meronta ingin mengajukan banding kepada Tuhan agar Dia membatalkan
setiap perpisahan yang pernah ku lalui. Sahabatku...........
Saat sekarang adalah kandungan semua masa hidupku dan didalamnya kusandarkan semua harapan untuk cita dan cinta kita. Dalam kebersamaan yang akan jadikanku seorang manusia sejati, ku titipkan asa yang pernah ada saat perjumpaan kita. Jangan jadikan kita sebagai orang yang berdiri di antara hari kemarin dan hari ini. Sambil
meratapi masa muda yang sia-sia, marindukan seseorang yang entah itu
siapa, melirik gulita dengan memperdengarkan rintihan keperihan dan
jeritan ketiadaan tingkah bangun untuk hari esok, rangkaikan asa visi
dan ilmu tanpa sebuah sesal di hari nanti. Dalam selimut malam ini setidaknya aku telah menoreh tinta dalam kenangku. Yang akan membawakan kisah kita dalam keabadian sementara yang kita ketahui. Akan selalu ku selipkan setiap mimpi masa mudaku, dalam kenangan kebersamaan kita yang tak akan pernah kembali.
Al – Ikhwah adalah endapan kerinduan nanti. Tersurat gambaran masa lalu kebersamaan kita dan tepatan buhul tali silaturahmi kita. Keluputan, alpa atas goresan pena kami, semoga dimaafkan. Karena kami yakin kesalahan hari ini adalah landasan kebenaran hari berikutnya. Selamat
menggapai mimpi-mimpi kalian yang tak akan goyah oleh penyesalan masa
ini, masa yang akan menjadi masa lalu di masa depan kita. Setinta segores dalam bait-bait syair persahabatan, akan selalu menemani perjalanan hidup kalian di masa mendatang.
Sampai berjumpa lagi di terminal selanjutnya. Salam hangat salam perih dari sahabatmu yang mulai merindukan perjumpaan dahulu. Torikul Fauzi