🪷 Bijaksana

DAWAI

Oleh Yosep Sopana

Orang-orang bersetubuh dengan lumrah Memadu cumbu tanpa ragu, Orang-orang mengalong saling gendong Menabur cinta di bawah cahaya dan gulita Sementara kita, Masih berpagutan dengan belenggu Termangu pada lugu yang malu Dicaci oleh benci Dimaki oleh iri Dikuliti tanpa henti, Si Cinta seakan sungkan tuk singgah pada lahunan Karena mungkin Dia pun tahu, Cicak-cicak masih bebanjar menyamar Mata mata mereka berkeliaran pada tiap penjuru semesta Memindai setiap pikuk Mengintai setitik khilaf Memitnah fitrah yang lemah, Mata-mata mereka menjelma jadi kelangkang, Membayang tiap rentang Membilang lubang jalang Tanpa menimang-nimang Lalu apa yang harus kita lakukan Dinda, Mestikah berpura-pura pada ijab? Lalu siap bercumbu dengan nestapa Ataukah berterusterang pada ilalang? Lalu siap menadah benderang yang datang Tapi, aku tak asanggup tuk menghadang Karena hari masih siang, dan jalan masih panjang Lagi pula, aku tak mampu menyuapimu dengan rempah mewah Dan tak mungkin pula aku menyulap sepah jadi nafkah Ataupun menadah,, rendah Pada altar kecemasan Si Cinta berdawai“semua akan indah pada waktunya”