DAWAI
Oleh Yosep Sopana
Orang-orang bersetubuh dengan lumrah
Memadu cumbu tanpa ragu,
Orang-orang mengalong saling gendong
Menabur cinta di bawah cahaya dan gulita
Sementara kita,
Masih berpagutan dengan belenggu
Termangu pada lugu yang malu
Dicaci oleh benci
Dimaki oleh iri
Dikuliti tanpa henti,
Si Cinta seakan sungkan tuk singgah pada lahunan
Karena mungkin Dia pun tahu,
Cicak-cicak masih bebanjar menyamar
Mata mata mereka berkeliaran pada tiap penjuru semesta
Memindai setiap pikuk
Mengintai setitik khilaf
Memitnah fitrah yang lemah,
Mata-mata mereka menjelma jadi kelangkang,
Membayang tiap rentang
Membilang lubang jalang
Tanpa menimang-nimang
Lalu apa yang harus kita lakukan Dinda,
Mestikah berpura-pura pada ijab?
Lalu siap bercumbu dengan nestapa
Ataukah berterusterang pada ilalang?
Lalu siap menadah benderang yang datang
Tapi, aku tak asanggup tuk menghadang
Karena hari masih siang, dan jalan masih panjang
Lagi pula, aku tak mampu menyuapimu dengan rempah mewah
Dan tak mungkin pula aku menyulap sepah jadi nafkah
Ataupun menadah,, rendah
Pada altar kecemasan
Si Cinta berdawai“semua akan indah pada waktunya”