🪷 Bijaksana

CERITA AKU

Oleh Noraidah Siuh

Pohon yang rendang, Menyembunyikan isi dalam, Disebalik tawa dan riang, Tersimpan seribu kelukaan. Aku yang kaku tak berdaya, Mencari sinar harapan suria, Mencari tangan-tangan keluarga, Untuk ku bertaut saat kalah. Ini waktu yang ku benci, Saat yang paling ku takuti, Dari dulu hingga kini, Tak pernah ku bayangi. Ditinggalkan ibu mithali, Bergerak sendiri di mendan ini, Berbekalkan senjati hati, Yang pelurunya hanyalah mimpi. Ibu kini telah kembali, Dan aku seolah mati, Nelihat ibu di bungkus kain putih, Tanda pergi takkan kembali. Kini yang aku miliki, Hanyalah memory dihati, Bersama ibu selamanya bersemadi, Semoga syurga tempatmu nanti. Ibu pergimu membunuh jiwaku, Tapi cintamu menguatkan aku, Untuk tetap terlihat teguh, Meski aku sebenarnya kaku. Ku tatap wajah ibu, Dibalik kain itu, Rasa sebak menguasaiku, Tapi aku harus teguh. Sunyi di pecahkan tangisan, Saat jasad ibu ditanamkan, Kerna ini adalah permulaan, Hidup tanpa ibu sebagai penaman. Tak kira siang dan malam, Semua berkunjung datang, Menemui kami dengan salam, Sebagai tanda sayang. Di sini mulanya hidup, Teguhkan diri tanpa bimbingan, Kerna ibu takkan datang, Seperti zaman takkan berulang. Cuma ucapan dan pesanan, Sebagai bekal ke masa depan, Agar terus bertahan, Untuk setiap ujian. Kerna kini ibu tak datang, Memberi semangat dan sokongan, Kerna ibu telah di tetapkan, Untuk kembali menghadap Tuhan.

Puisi Lainnya

SUAMIKU Oleh Noraidah Siuh BILA CINTA DISAKITI Oleh Noraidah Siuh