BUNGA DIANTI
Oleh Renandella
Aku tidak melihat ini dari sisi dimana hatimu menyandarkan luka pada sekeping harapan, Itulah aku.
aku menuntun aku kepada kepatuhan bahwa akulah anak adam yang terbunuh dalam buaian ribuan iblis bagaikan hantu yang melayang – layang di atas kepalaku.
Ya !! aku telah kalah atas sebuah pentafsiran yang aku mengerti warna dan kedalamannya, namun aku tetap mengikutinya seperti anak kecil yang mengikuti sang bunda.
Akulah sebuah keterbatasan dalam dunia yang sudah kutinggalkan, namun aku sengaja menjatuhkan jiwa ku di lembah tak berdasar atas kerinduanku pada lautan merah dimana matahari sering mengintaiku di balik samudera saat merpati menjemput senja.
Disana lah aku menemukan setangkai bunga Dianti tertunduk menghadap bumi, aku melihatnya sesekali memungut helai demi helai air mata yang berurai di atas kemuliaan namun musim menggugurkan impiannya.
Tidaklah aku meliat dia kecuali keindahan yang membiaskan mataku dengan bisikan - bisikan mesra bagaikan nanyian pagi namun aroma sesal dan kebencian memagari jiwanya sementara air mata adalah dasar baginya bertahan hidup, maka ia merelakan kenyataan itu dengan hanya berpegang pada selembar kesabaran.
Itulah dia dimataku, wanita biasa yang mencoba bangkit melawan burung – burung bangkai yang coba membunuh jiwanya yang rapuh, mencabik harga dirinya lalu meninggalkannya termakan hari dan waktu, namun dialah bunga Dianti, cukup baginya senyuman langit.
Lalu aku lah iblis yang mencoba menghirup wewangian kasih sayang, mencoba mencintai tanpa memutuskan nadi – nadinya dengan bisikan – bisikan dosa, mencoba mengukir persahabatan dengan tinta emas, mencoba mengikat persaudaraan dengan benang yang tajam.
Tidakah aku lupa bahwa pengalaman telah mengajarkanku bahwa mencintai hanya kan menciptakan duka dan airmata ? maka cinta mengaburkan ingatanku
Tidakkan aku menyadari bahwa kemunafikan adalah pakaianku ?
Maka akulah iblis yang tidak mengenali diri sendiri.****aku telah menggenggam bunga dianti di tangan kiriku bagaikan boneka yang kupermainkan
tidakkah aku menyadari bahwa akulah yang menyembunyikan tangan kananku walau tangan kananku itu berontak untuk memintaku melepaskan bunga dianti itu, bagaikan airmata berontak sementara kelopakk mataku menahannya.
Wajahku pun menghadap langit dan tertawa, bahwa hanya bagian kecil dari diriku yang mentafsirkan itu sebagai kesalahan sementara bagian yang lain mentafsirkan ini sebagai cinta yang dimuliakan cinta.
Maka akupun melanjutkan perjalananku menuju gubuk sederhana yang kudirikan di danau utara dimana mengalir sungai –sungai kecil disekitarnya.
Disetiap langkahku, aku selalu menggenggam bunga dianti sambil sesekali memandangnya, mengagumi keindahaanya.
Sementara bagian diriku yang lain menangis melihat sehelai demi sehelai bunga itu jatuh berguguran.
Tapi aku tidak memberikan ruang kebebasan kepadanya
Aku tidak bisa memberikan tempatnya bertahan dan tumbuh
Aku tidak bisa memberikannya sinar matahari
Aku tidak menyiraminya dengan kasih sayang
Aku hanya menggenggamnya
Lalu aku menyadari sesungguhnya ia telah layu dan mati sebelum aku mencapai tujuanku.
Lalu terbukalah mata hatiku tentang makna cinta dan kasih sayang
Kini aku menggenggam tiara yang ku sebut kebahagiaan yang ingin ku kalungkan kepada bunga dianti
Namun aku tidak bisa melakukannya kecuali Membiarkan sesalku terbaring di rumah hatiku.
Membingkai wajahnya yang cantik agar setiap aku membuka mata ini maka aku dapat melihat wajahnya tersenyum kepadaku.
Aku tidak lebih hanyalah jiwa yang rindu dan bermimpi melukis langit dengan bintang.
Maaf telah mencintaimu …