🪷 Bijaksana

BERTUHAN RASA

Oleh Muslim

Rasa yg berakar tunggang Merayap masuk kedalam sandubari Jauh kedalam relung hati yang pengecut Bukan pohon beringin memberi sejuk Seolah rasa tak berpembela Jua tak bertuan Matahari terus tak betabrakan terhadap bulan Saling teguh terhadap orbit yg tetap Entah sedalam apa Entah juga sampai bila Aku tak yakin waktu kan menjawab Apa lah lagi semesta Yang tahu hanyalah air mata Sebanyak apa ia telah jatuh Mengalir ke pipi yg tak lagi halus ini Mengapa bisa segila ini Apakah memang telah hilang kaidah pikir Hingga tak tahan menahan sakit sekejap Lalu rela menahan sakit yang panjang antaranya oh bunga dalam tatap kosongku Pahanira tlah berjaya pecah jiwaku Jadi dua keping jiwa Jiwaku yg palsu tlah nyaman menjalani lakon Seolah aku pada mu Jiwa nyataku pun ku benci Karena tak bisa memelukmu dalam nyata Ya benar Aku tlah gila Hingga tak tahu mana jiwaku lagi Lagi-lagi jatuh air mata itu Hingga kini kering sudah Yang ada tinggal hati yang tandus Setandus padang sahara Namun hati lebih luas lagi Persetan dengan lisan Tak satu titik goresan tinta pun terucap Hanya tangan lemah ini Ya hanya tangan lemah ini ingen terus menarikan pena Seriring dengan luapan rasa yang tiada akhir Ingin aku menulis sebanyak ku mampu Hingga aku lupa bahwa lisan punya hak bicara Hingga aku lupa bahwa semua rasa berhak untuk di ungkap Bukan disembah seperti tuhan sahaja Oh semesta Kenapa ada langit ada bumi Hingga mustahil ku gapai rasanya rasa ini.