ALTAR CINTA
Oleh Muhammad Hafeedz Amar Riskha
Sehabis hujan
Kopi dan sebatang roko
berdialog; sepi
Begitu romantisnya kusaksikan
Percumbuan mereka tanpa pernah ribut berebut
Lebih dulu siapa yang di kulum manja oleh bengisnya mulutku.
Pelangi sudah melintang
Tandanya terang akan segera datang
Rokok dan kopi juga telah usai
Mengobroli apa saja yang mereka anggap cinta.
Dan aku masih berduduk manja di atas sofa pada beranda
Rumahku sembari menghirup aroma petrichol yang begitu ramah.
Sinar mentari mulai menelisik dari sebalik awan,
Pelangi perlahan memudar warnannya.
Dan aku belum juga bisa beranjak dari tempatku.
Kupandangi sekitar rumah, jalan dan bilik-bilik tetangga.
Ternyata orang-orang sudah mulai bermunculan,
Ada yang sekedar menghela udara segar,
Ada yang lewat tanpa sapa dan ada juga yang sepertiku;
Ngopi di teras rumah.
Nikmat mana lagi yang kau ingkari?
Pertanyaan itu muncul seketika di otakku
Membuyarkan segala sepi, duka, keluh kesah dan kegalaun
Yang tak henti-hentinya silih berganti bergumam di hati.
Tuhan,
Segala puja dan puji bagi-Mu
Sungguh tak ada satupun yang dapat luput dari pengawasanmu,
Meskipun hanya secercah doa hati yang rindu.