🪷 Bijaksana

ALTAR CINTA

Oleh Muhammad Hafeedz Amar Riskha

Sehabis hujan Kopi dan sebatang roko berdialog; sepi Begitu romantisnya kusaksikan Percumbuan mereka tanpa pernah ribut berebut Lebih dulu siapa yang di kulum manja oleh bengisnya mulutku. Pelangi sudah melintang Tandanya terang akan segera datang Rokok dan kopi juga telah usai Mengobroli apa saja yang mereka anggap cinta. Dan aku masih berduduk manja di atas sofa pada beranda Rumahku sembari menghirup aroma petrichol yang begitu ramah. Sinar mentari mulai menelisik dari sebalik awan, Pelangi perlahan memudar warnannya. Dan aku belum juga bisa beranjak dari tempatku. Kupandangi sekitar rumah, jalan dan bilik-bilik tetangga. Ternyata orang-orang sudah mulai bermunculan, Ada yang sekedar menghela udara segar, Ada yang lewat tanpa sapa dan ada juga yang sepertiku; Ngopi di teras rumah. Nikmat mana lagi yang kau ingkari? Pertanyaan itu muncul seketika di otakku Membuyarkan segala sepi, duka, keluh kesah dan kegalaun Yang tak henti-hentinya silih berganti bergumam di hati. Tuhan, Segala puja dan puji bagi-Mu Sungguh tak ada satupun yang dapat luput dari pengawasanmu, Meskipun hanya secercah doa hati yang rindu.

Puisi Lainnya

ADA BANYAK MALAM Oleh Muhammad Hafeedz Amar Riskha MALAM PERSEMBAHAN Oleh Muhammad Hafeedz Amar Riskha HANI Oleh Muhammad Hafeedz Amar Riskha AL-CINTA Oleh Muhammad Hafeedz Amar Riskha