🪷 Bijaksana

AIR MATA UNTUK AYAH

Oleh Wawan Abdullah

Air mataku untuk ayah Aku terdiam termangu di hadapan keranda bisu Jerit tangis air mata menghiasi hari saat ini Ayah secepat itu kah kau pergi Meninggalkan anakmu yang malang ini Takan ada lagi suara yang di nanti nanti saat subuh tiba Kini ayah tebaring lemah tak bernyawa kain putih itu menutup rapat tubuhmu ayah Ikatan demi ikatan begitu kencang melilit tubuhmu Tak ku lihat lagi senyuman yang selalu menghiasi raut wajahmu Kau terpejam menahan sakit. Seolah olah aku bisa merasakan apa yg saat ini ayah rasakan. Sakit yah rasanya sakit aku harus ikhlas melepasmu pergi selamanya. Langkah demi langkah ku iringi ayah pada tempat peristirahatan terakhir ayah. Air mata anak mu ini tak henti-henti mengalir deras  membasahi pipi bahkan sampai terjatuh menetesi kain. Tak berdaya Ku menatap tajam rumah terakhir berukuran 2x1 yang begitu sempit untuk kau tempati. Beralaskan tanah. Beratapkan tanah. Angin berhembus lembut seolah berbisik membawa kabar darimu ayah. Seakan-akan kau membisikan sesuatu pada anakmu ini  melalui angin. Ku ukir jelas nama mu dalam hati anakmu ini ayah. Biarlah semua ku simpan dalam kenangan terindah dalam hidupku.